Menuju Kesembuhan, Kedamaian, Ke-u-Tuhan Menemukan Tirtha Di Dalam Diri

Menuju Kesembuhan, Kedamaian, Ke-u-Tuhan
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Nyanyian Kedamaian

Gede Prama
2015

Ucapan Terima Kasih

Setiap hasil karya adalah buah dari jejaring rumit cinta yang sulit ditelusuri. Ia sama sulitnya dengan menelusuri tangan-tangan yang ada di balik mekarnya sebuah bunga indah. Namun demikian, buku sederhana ini mengucapkan terima kasih mendalam pada banyak pihak sehingga bisa menjadi pelayan bagi halayak pembaca yang tidak terhitung jumlahnya.

Untuk itu, terima kasih yang mendalam diucapkan kepada:
1. Pulau Bali beserta seluruh penghuninya karena sudah menyediakan ruang, tempat, inspirasi sehingga buku sederhana ini bisa ditulis
2. Para Guru spiritual dari berbagai tradisi dan agama yang tidak bisa disebutkan satu persatu
3. Para donatur (penyumbang) yang membuat buku ini bisa dicetak dan dibagikan secara cuma-cuma pada halayak sidang pembaca
4. Keluarga spiritual compassion Jakarta sekaligus keluarga spiritual compassion Bali. Khususnya terima kasih pada koordinator Jakarta bapak Sudarmin, koordinator Bali bapak Koming Sudiarta, serta Kadek Suwandewi yang
mengedit, merapikan, meringkas, mencarikan gambar sehingga buku ini bisa indah dan asri di tangan pembaca.
5. Seluruh murid meditasi yang ikut berlatih di jalan belas kasih (compassion) yang tersebar di banyak tempat baik di Bali, Jakarta dan juga di manca negara
Sekali lagi matur suksma, terima kasih atas semuanya. Semoga semua mahluk berbahagia serta bebas derita.
Tirtha Di Dalam Diri

Pintu Depan :
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri………….. 1

Bagian I :
Kesembuhan

Tirtha Kesembuhan ……………………………… 15
Memaafkan Itu Menyembuhkan …………. 21
Menyembuhkan Kemarahan ………………… 25
Senyuman Cahaya ……………………………….. 29
Keheningan Yang Menawan …………………. 33
Lengkungan Yang Menyembuhkan ……… 37
Senyuman Itu Juga Menyembuhkan ……. 41
Cinta Menyembuhkan Jiwa ………………….. 45
Bersyukur Itu Menyembuhkan …………….. 51
Jalan Indah Kesembuhan ……………………… 55
Rumah Kesembuhan ……………………………. 59

Bagian II :
Kedamaian
Tirtha Kedamaian ………………………………… 65
Taman Organik Kedamaian …………………. 69
Sungai Kedamaian ……………………………….. 75
Samudra Belas Kasih ……………………………. 77
Burung Kedamaian ………………………………. 81
Ciuman Kedamaian ……………………………… 87
Tarian Kedamaian ………………………………… 93
Senyuman Paling Indah ……………………….. 97
Cinta Membawa Kedamaian ………………… 101
Bercengkrama Dengan Kedamaian ………. 105
Jiwa Yang Mekar ………………………………….. 109

Pintu Belakang :
Berjumpa Ke-u-Tuhan ……………………………… 115
Daftar Bacaan ……………………………………….. 121

Pintu Depan
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri, Nyanyian Kedamaian

Terjunnya seorang remaja dari lantai tiga sebuah sekolah di Bali Utara di pertengahan Agustus 2015 sangat menyentuh hati. Bila di pulau Bali yang dikagumi dunia saja, hal menyentuh seperti ini bisa terjadi, apa yang terjadi di tempat lain?
Kapan saja pikiran yang tidak stabil berjumpa dengan lingkungan yang juga tidak stabil, di sana kecelakaan spiritual seperti bunuh diri bisa terjadi. Dan lingkungan yang tidak stabil bukanlah obyek untuk mengkritik ini dan itu. Melainkan

Menemukan Tirtha Di Dalam Diri

”Cara terindah untuk menyalakan lilin orang lain adalah sikap keseharian yang menyentuh hati” kesempatan untuk memancarkan cahaya. Buku sederhana ini adalah bagian dari langkah kecil untuk memancarkan cahaya. Dan Anda
yang sudah membaca buku ini memiliki kewajiban spiritual untuk menyalakan lilin-lilin di lingkungan masing-masing. Di zaman ini, cara terindah untuk menyalakan lilin orang lain adalah sikap keseharian yang menyentuh hati.

Tirtha Kesembuhan dan Kedamaian

Ada perasaan yang kurang di dalam, itulah energi besar yang membuat manusia mencari di zaman ini. Remaja
mencari pacar, orang dewasa mencari pasangan hidup, orang tuamencari Tuhan dan pencerahan. Dan sebagian
lebih manusia yang mencari di zaman ini tidak berjumpa apa-apa. Lebih dari tidak berjumpa apa-apa, sebagian
pencari bahkan sakit. Yang sangat menyentuh hati, ada yang mengalami kecelakaan spiritual seperti remaja di atas.

Terinspirasi dari sini, buku “Memaafkan adalah suguhan (segehan) yang kita berikan pada setan yang ada di dalam diri” sederhana ini mengundang halayak pembaca untuk berjumpa air suci (tirtha) di dalam diri. Lingkungan yang tidak stabil mirip dengan kegelapan. Dan kegelapan hadir tidak untuk menghancurkan, melainkan memberi kesempatan agar cahaya memancar lebih terang. Seperti itulah langkah awal menemukan tirtha di dalam diri. Itu sebabnya, bahan-bahan meditasi di buku ini penuh dengan undangan untuk mendekap setiap kegelapan yang ada di dalam diri.
“Musuh-musuh yang terlihat melukai itu sesungguhnya tidak sedang melukai, melainkan sedang membimbing jiwa untuk menemukan kembali rumah yang sesungguhnya”

Seorang ibu yang mengaku pernah mencoba bunuh diri dua kali pernah bertanya secara menyentuh hati: “kalau setan di luar diberi suguhan (segehan) di Bali, lantas apa suguhan untuk setan yang ada di dalam?”. Memaafkan,
menerima, mendekap diri Anda apa adanya, itulah suguhan untuk setan yang ada di dalam
diri.

Untuk dimaklumi bersama, sahabat-sahabat di Barat yang jauh lebih kaya secara materi, jauh lebih dulu mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi,baru di tahun 1980an tumbuh kesadaran akan pentingnya sisi kejiwaan dalam merawat anakanak.

Sejumlah sahabat psikolog dan psikiater di Barat juga bercerita tentang horor kejiwaan yang dialami banyak anak-anak di sana. Dengan kata lain, dalam kadar yang berbeda kita semua memiliki luka-luka jiwa. Bila orang biasa lari dari luka jiwa seperti mencoba narkoba, orang bijaksana mengolah luka-luka jiwa di dalamsebagai bahan-bahan pertumbuhan. Caranya, fokus pada pelajaran-pelajaran yang hadir di balik pengalaman traumatik. Selalu lihat sisi-sisi berkah dari apa-apa yang sudah lewat.

Memiliki orang tua pemarah memang tidak enak, tapi ia menghadirkan pengalaman langsung tentang bahayanya kemarahan. Dilukai di masa kecil tentu saja menyakitkan, tapi ia bisa menjadi bibit-bibit belas kasih (compassion) agar bisa merawat anak-anak suatu hari kelak. Mengalami pelecehan seksual tentu saja tidak nyaman, tapi pelajaran yang diperoleh di sana bisa dibagikan ke banyak orang sehingga jiwa bisa bercahaya. Dengan selalu terfokus pada segi pelajaran dan sisi berkah, kehidupan kemudian terlihat sebagai jejak-jejak makna yang panjang dan dalam. Jika
ilmu psikologi berisi hasil penemuan tentang jiwa orang lain, ia yang tekun melihat sisi berkah kehidupan, segi pelajaran dari pengalaman akan menemukan wajah jiwanya yang lebih dalam.

Dalam bahasa sederhana namun kaya: “musuh-musuh yang terlihat melukai itu sesungguhnya tidak sedang melukai, melainkan sedang membimbing jiwa untuk menemukan kembali rumah yang sesungguhnya”. Tatkala seseorang tersakiti, terpaksa ia menggali ke dalam diri. Saat seseorang terlukai, terpaksa ia harus menemukan
obat untuk diri sendiri.

Dan suatu hari saat obat itu betul-betul ditemukan di dalam diri, di sana seseorang akan berterimakasih secara mendalam pada orang-orang yang melukai. Terutama karena merekalah yang membimbing jiwa jadi sembuh sekaligus utuh. Sebagai bahan-bahan renungan untuk menyembuhkan diri, berikut dikemukakan beberapa langkah menuju kesembuhan dan kedamaian diri.

1. Untuk para sahabat yang peka, mudah luka, sedikit-sedikit tersinggung, disarankan menjauh dari lingkungan yang tidak mendukung. Lebih baik disebut sombong  sedikit tapi selamat, dibandingkan disebut ramah tapi kiamat.

2. Setelah menjauh dari lingkungan yang tidak mendukung, cari lingkungan yang lebih mendukung. Idealnya, keluarga (ayah, ibu, kakek, nenek) yang memerankan peran ini.
Tapi di zaman ini banyak keluarga roboh oleh perceraian. Kalau itu terjadi, temukan lingkungan pendukung seperti buku suci dan tempat suci. Di sana-sini lahir keluarga spiritual, tapi ini pun perlu diwaspadai. Terutama karena banyak cerita tidak indah di sana.

3. Di psikologi ada teknik tua yang masih layak dicoba yakni membuat buku harian. Apa pun terjadi dalam keseharian, terus menerus tulis, tulis dan tulis di buku harian Anda. Karena ia hanya dibaca oleh diri Anda, tidak perlu takut disebut sombong, tidak sopan, kurang ajar, yang penting ditulis, ditulis dan ditulis. Indahnya cara buku harian ini, Anda tidak saja menuangkan sampah-sampah kejiwaan di dalam, tapi juga bisa melihat pertumbuhan
jiwa Anda. Ia mirip dengan tukang taman yang melihat pertumbuhan pohon bunganya.
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri

4. Seorang psikolog terkenal di Barat yang merangkap sebagai Guru meditasi bernama Daniel Goleman. Di banyak karyanya (salah satunya Emotional Intelligence), ia sering menyarankan teknik seperti ini: “tangkap dan
bebaskan”. Konkritnya, setiap kali ada emosi yang muncul di dalam, cepat tangkap (baca: ditulis dalam buku harian), kemudian biarkan emosi itu tersimpan dalam buku harian (baca:bebaskan). Dengan cara ini, seseorang tidak saja selamat, tapi juga mengenali diri semakin dalam dari hari ke hari.

5. Setiap sahabat yang meditasinya sudah mendalam mengerti, mana kala emosi itu diekspresikan secara sehat seperti ditulis di buku harian, suatu hari energi emosi itu akan balik dalam bentuk energi kesembuhan dan
kedamaian.

6. Kapan saja beban-beban emosi di dalam mulai ringan (marah berkurang, mimpi buruk berkurang), di sana belajar mengingat kembali memori-memori indah di masa kecil. Sejumlah sahabat bercerita tentang seringnya ia mimpi terbang saat masih kecil. Ia adalah masukan kalau yang bersangkutan adalah mahluk langit yang ada di sini untuk berbagi cahaya. Sahabat Menemukan Tirtha Di Dalam Diri yang lain bertutur tentang seringnya ia mimpi
telanjang di masa kecil. Ini adalah tanda kalau kesembuhan dan kedamaian lebih mudah
ditemukan oleh pikiran yang telanjang (bebas dari penghakiman dan permusuhan).

7. Dalam bahasa yang ringkas dan padat: “berhenti mengidentikkan diri sebagai korban kekerasan, belajar melihat diri sebagai jiwa-jiwa yang ada di sini untuk berbagi cahaya”.
Jika dalam ilmu geografi (tata ruang) berlaku rumus “lihat dulu baru yakin”, dalam bidang pertumbuhan spiritual rumusnya terbalik: “yakin kemudian Anda bisa lihat”.

8. Berbekalkan “bacaan-bacaan” di dalam seperti ini, kemudian belajar memulai perjalanan meditasi. Pedomannya sangat sederhana. Sadari badan (panas, dingin, lapar, haus) sebagai badan, bukan sebagai diri Anda. Sadari
pikiran (salah, benar, buruk, baik) sebagai pikiran, bukan sebagai diri Anda. Sadari perasaan (sedih, senang) sebagai perasaan, bukan sebagai diri Anda. Sadari gagasan (yg dipelajari di sekolah, buku suci, dll) sebagai
gagasan, bukan sebagai diri Anda.

9. Kalau tekun selama bertahun-tahun memberi jawaban “bukan” kepada tubuh, pikiran, perasaan, gagasan, suatu hari ada jendela pandangan terang yang terbuka di dalam.
Simpelnya, ada sampah dalam bunga, ada bunga dalam sampah. Sampah kesedihan di hari ini bisa berubah jadi bunga kebahagiaan di hari lain. Sampah musibah di tahun tertentu bisa berubah jadi bunga berkah di tahun yang
lain.

10. Pandangan terang seperti ini kemudian membimbing jiwa pada sebuah pilihan indah: “mengalir, mengalir, mengalir”. Persis seperti apa yang dilakukan air sungai, dengan mengalir maka semua penghalang seperti
cobaan dan godaan bisa dilewati. Tidak perlu menekan, tidak perlu mendorong. Semua air akan sampai di samudra tidak berhingga yang sama.

11. Begitu setetes air jiwa menyentuh samudra, di sana seseorang akan mengalami apa yang disebut oleh tetua Bali sebagai manasa tirtha (air suci yang dipercikkan di kedalaman bathin).
Di tingkat ini, lidah mana pun akan terlalu pendek untuk bisa menceritakannya. Selamat
datang di rumah jiwa-jiwa yang indah. Bali Utara, Agustus 2015

Kesembuhan
Nyanyian Kedamaian

Seorang remaja datang ke kelas meditasi dengan wajah yang menyentuh hati. Setelah didengarkan secara penuh empati, ia bercerita kalau dirinya sudah positif terkena virus HIV. Pelajaran yang bisa ditarik dari sini, kapan saja pikiran yang tidak stabil berjumpa lingkungan yang juga tidak stabil, di sana terjadi kecelakaan spiritual yang sangat
berbahaya seperti bunuh diri, terkena virus HIV, dll bisa terjadi.

Tirtha Kesembuhan

“Kesembuhan bukanlahkeadaan tanpa penyakit. Kesembuhan adalah perasaan keterhubungan yang sangat mendalam”

Lingkungan yang tidak stabil bukanlah lahan untuk mengkritik ini dan itu, melainkan sebuah undangan untuk memercikkan tirtha (air suci) pada cuaca kehidupan yang sedang panas. Jika di pulau Bali yang dikagumi dunia saja ada cerita kehidupan yang pengap, tidak kebayang seberapa gelap dan pengap lingkungan di tempat lain.
Sekali lagi, inilah saatnya bagi jiwa-jiwa bercahaya untuk memercikkan tirtha. Dan diantara demikian banyak
pilihan, perbuatan baik adalah cara indah untuk memercikkan tirtha.

Kalau tidak bisa memberi makan pada fakir miskin, kenapa tidak menyirami tanaman. Jika tidak bisa menolong banyak orang, kenapa tidak menolong kucing jalanan. Pilihan lain, hati-hati dengan penggunaan katakata.
Kata-kata tidak saja alat komunikasi, kata-kata bisa menjadi bagian dari kegelapan, bisa juga menjadi bagian dari cahaya. Keluhan, protes, kritik yang tidak pada tempatnya adalah bentuk “jika Anda hanya punya satu kata yang
diucapkan dalam doa, terima kasih sudah jauh lebih dari cukup” kata-kata yang menyebarkan kegelapan. Ucapan
terima kasih, bersyukur, doa yang tulus adalah sebagian contoh kata-kata yang menyebarkan cahaya.

Lebih dalam dari tindakan dan kata-kata adalah pikiran. Sebuah ladang dari mana tindakan dan kata-kata bertumbuh. Ia yang pikirannya indah cenderung menghasilkan kata-kata sekaligus tindakan yang juga indah. Itu sebabnya meditasi berkonsentrasi pada melatih pikiran agar selalu indah.

Pikiran yang tidak stabil – penyebab bagi kecelakaan spiritual berbahaya seperti bunuh diri- adalah buah dari karma yang panjang. Dalam studi-studi tentang karma ditulis, mereka yang di kehidupan sebelumnya sering meminum
atau mengkonsumsi minuman/makanan yang melemahkan kesadaran seperti alkohol, narkoba dan sejenis, maka di kehidupan berikutnya cenderung memiliki pikiran yang mudah goyah.

Dalam bahasa meditasi, pikiran yang goyah adalah pikiran yang hanyut. Hanyut oleh kemarahan, ketersinggungan, dendam, sakit hati. Oleh meditasi, pikiran yang hanyut ini dibawa berenang ke pinggir. Terutama melalui kegiatan
menyaksikan. Saat sedih datang saksikan.

Tatkala senang datang saksikan. Pikiran merasa salah saksikan. Pikiran merasa benar saksikan. Begitulah cara meditasi mengajak Anda berenang ke pinggir agar tidak hanyut oleh sungai pikiran dan perasaan.
Bagi para sahabat yang masih sangat labil, terlalu peka, mudah luka disarankan untuk dekat dengan simbol-simbol alam yang berbagi sukacita. Burung-burung yang bernyanyi, lumba-lumba yang berlompatan, anak-anak balita yang
bermain, bunga yang bermekaran, matahari terbit, suara ombak di samudra adalah sebagian contoh nyanyian sukacita yang ada di alam.

Belajar terhubung dengan energi sukacita yang ada di alam melalui kegiatan bersyukur serta berterima kasih. Dalam bahasa sederhana tapi dalam: “jika Anda hanya punya satu kata yang ”Setiap cinta yang dipancarkan ke mahluk lain
akan balik ke diri kita dalam bentuk cinta yang lebih indah” diucapkan dalam doa, terima kasih sudah jauh lebih dari cukup”. Ia yang setiap hari mengucapkan kata terima kasih, setiap hari memerciki jiwanya dengan tirtha  kesembuhan.

Bagi jiwa jenis ini, kesembuhan bukanlah keadaan tanpa penyakit. Melainkan sebuah perasaan keterhubungan yang sangat mendalam. Di tingkat kesembuhan seperti ini, seseorang melihat dirinya di mana-mana. Sebagai akibatnya, jangankan melukai hati orang, bahkan menginjak rumput pun dipikirkan secara berulang-ulang. Terutama karena sudah menyadari dan mengalami, setiap rasa sakit yang dilakukan ke mahluk lain akan balik ke diri kita dalam bentuk rasa sakit. Setiap cinta yang dipancarkan ke mahluk lain akan balik ke diri kita dalam bentuk cinta yang lebih indah.

“Orang itu sangat mengecewakan. Dari kecil
selama bertahun-tahun dirawat, tidak saja ia
lupa pernah diselamatkan, tapi juga sombongnya
minta ampun”, demikian seorang Ibu mengeluh
berat beberapa hari sebelum terkena serangan
stroke.
Ini cerita tipikal banyak orang tua yang kurang
membekali dirinya dengan pengetahuan dan
kebijaksanaan. Jangankan kekeliruan yang
pernah dilakukan, bahkan kebaikan yang pernah
Memaaf ka n Itu
Menyembuhka n
“Tatkala Anda memaafkan,
Anda sedang membawa
jiwa keluar dari ruang
pengap marah dan
dendam”

dilakukan pun mengejar ke mana-mana seperti
musuh yang membawa senjata.
Tatkala tubuh tidak lagi kuat menggendong
beban seperti rasa bersalah akibat kekeliruan di
masa lalu, kekecewaan yang datang dari orangorang
yang pernah ditolong, saat itulah tubuh
mulai roboh terkena berbagai penyakit berbahaya
seperti stroke.
Dan sebelum itu terjadi,
layak direnungkan
untuk melonggarkan
cengkraman pikiran.
Makanya seorang wanita
Inggris yang pernah menghabiskan waktu belasan
tahun melakukan meditasi seorang diri di lereng
Himalaya bercerita, salah satu hasil penting meditasi
adalah cengkraman pikiran yang melonggar.
Sebelum disentuh meditasi, pikiran sangat
mencengkeram. Mirip dengan keluhan ibu di atas,
orang terlihat melakukan kesalahan berbahaya,
yang bersangkutan merasa paling benar. Sebagai
akibatnya, tubuh menggendong beban-beban
kejiwaan yang teramat berat.
“Salah satu hasil
meditasi adalah
cengkraman pikiran
yang melonggar”

Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Apa yang dilakukan meditasi sederhana.
Awalnya pikiran mirip dengan air hujan yang
deras. Semuanya ditendang. Setelah disaksikan
dengan penuh ketenangan, air hujan yang deras
ini kemudian menyatu dengan aliran sungai.
Di puncak meditasi, seseorang keluar dari alur
sungai pikiran dan emosi, kemudian hanya berdiri
di pinggir sungai sebagai seorang saksi.
Transformasi dari air hujan ke air sungai lebih
berat. Terutama karena pikiran masih sangat
dicengkram oleh keyakinan diri merasa benar.
”Memaafkan serupa air suci (tirtha) yang
dipercikkan pada jiwa yang sedang
kepanasan di dalam”
Dari sini muncul penghakiman-penghakiman
yang menyakitkan. Dan penghakiman itu lebih
melukai yang menghakimi dibandingkan dengan
yang dihakimi.
Di titik inilah seseorang memerlukan kekuatan
memaafkan. Tidak saja memaafkan orang yang
mengecewakan, juga memaafkan kekeliruankekeliruan
yang pernah dilakukan di masa
lalu. Memaafkan serupa air suci (tirtha) yang
Memaafkan Itu Menyembuhkan

dipercikkan pada jiwa yang sedang kepanasan di
dalam.
Tatkala seseorang memaafkan, bukan berarti ia
salah dan orang yg dimaafkan benar. Sekali lagi
bukan. Saat seseorang memaafkan, sesungguhnya
ia sedang membawa jiwanya keluar dari rumah
jiwa yang sedang terbakar oleh dendam dan
marah.
Sebagai akibatnya, tidak saja yang bersangkutan
bisa sembuh jiwanya, tapi juga bersama banyak
orang serupa ikut menyembuhkan dunia. Dan
bukan kebetulan kalau salah satu cahaya terang
yang pernah muncul di abad kita adalah Nelson
Mandela. Dan di balik cahaya terang yang dibawa
Mandela adalah kekuatan memaafkan.

Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Energi di dalam diri yang paling menakutkan
di zaman ini adalah kemarahan. Nyaris semua
malapetaka kemanusiaan dari peperangan,
terorisme hingga bunuh diri memiliki akar kuat
pada kemarahan. Tanpa upaya sengaja untuk
menyembuhkan kemarahan, masa depan akan
penuh dengan awan penghalang.
Subyek kemarahan sudah pernah didekati oleh
banyak sekali penulis dengan berbagai pendekatan
yang berbeda. Dan sulit mengingkari, akar terdalam
Menyembuhkan
Kemarahan
”Akar terdalam
kemarahan adalah
perasaan yang selalu
kurang di dalam”

kemarahan adalah perasaan yang selalu kurang
di dalam. Perasaan yg selalu kurang ini yang
membuat remaja mencari pacar, orang dewasa
mencari harta dan tahta. Bahkan di dunia spiritual
pun orang lapar sekali mencari pencerahan.
Suatu hari ada seorang Ibu
di Vietnam yang khusyuk
sekali melafalkan nama
Buddha Amitaba. Di
tengah khusyuknya doa,
tiba-tiba tetangganya
memanggil nama Ibu ini. Marah karena doanya
terganggu, Ibu ini kemudian membentak. Kontan
saja tetangganya tertawa sambil bergumam:
“astaga, saya memanggil nama Ibu hanya tiga
kali, Ibu sudah marah. Tidak kebayang, betapa
marahnya Buddha Amitaba karena namanya Ibu
panggil ribuan kali”.
Pesan cerita ini sederhana, bahkan di dunia
spiritual pun manusia penuh kemarahan. Dan
kembali ke akar terdalam kemarahan, sejauh
ada rasa yang kurang di dalam, sejauh itu juga
kemarahan akan tetap menggoda. Dan rasa yang
kurang di dalam ini membuat seseorang memiliki
banyak musuh di dalam diri.
“Ia yang tidak
memiliki musuh di
dalam juga tidak
memiliki
musuh di luar”
26
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Besarnya nilai industri kosmetik, cepatnya
pertumbuhan bisnis bedah plastik adalah
sebagian tanda kalau manusia di zaman ini
memiliki banyak musuh di dalam dirinya. Yang
kulitnya hitam mau lebih putih, yang rambutnya
lurus mau keriting, yang hidungnya mancung ke
dalam mau mancung ke luar.
Sedihnya, musuh-musuh di dalam ini mengundang
datangnya musuh-musuh di luar. Ia mirip dengan
sampah yang mengundang datangnya lalat.
Interaksi antara musuh di dalam dengan musuh
di luar, itulah yang membuat banyak manusia
sangat terbakar oleh kemarahan.
Menyembuhkan Kemarahan
27
“Semua kejadian adalah tarian kesempurnaan
yang sama”
Sehingga agar sembuh sepenuhnya dari
kemarahan, tidak ada cara lain selain belajar
menyembuhkan rasa yang serba kurang di dalam.
Di jalan meditasi, ia disembuhkan dengan cara
menyentuh kekinian secara mendalam. Makanya
salah satu pengertian meditasi adalah bersentuhan
dengan saat ini secara mendalam.
Maksud bersentuhan dengan kekinian secara
mendalam sederhana, seseorang disarankan
hadir utuh dan penuh di saat ini. Bebas dari
kemelekatan pada hal-hal positif, bebas dari
kebencian akan hal-hal negatif. Apa pun berkah
kekiniannya, belajar mendekap kekinian dengan
kualitas senyuman yang sama.
Di kelas meditasi sering terdengar pesan seperti
ini: “masa lalu sudah berlalu, masa depan belum
datang, satu-satunya hadiah yang diberikan
kehidupan adalah saat ini”. Keadaan bersentuhan
dengan saat ini akan lebih mudah dicapai
kalau seseorang meyakini kalau semua adalah
senyuman kesempurnaan yang sama. Semuanya
hadir membawa bimbingan-bimbingan.
Fokus pada bimbingan-bimbingan, bukan pada
hukuman-hukuman, itulah salah satu cara
menyentuh saat ini secara mendalam. Lebih
dalam lagi kalau seseorang bisa mendekap setiap
rasa sakit seperti seorang ibu yang mendekap
putra tunggalnya yang sedang menangis. Dengan
cara ini, pelan perlahan seseorang sedang
menyembuhkan akar terdalam dari kemarahan.
28
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Lapar akan perhatian, haus untuk didengarkan,
itulah ciri banyak sahabat yang badan dan
jiwanya sedang sakit parah. Tatkala ada yang
menyediakan dirinya untuk mendengarkan
dan memperhatikan, terlihat sekali kalau wajah
mereka lebih segar dan lebih bercahaya.
Idealnya yang melakukan tugas ini adalah
keluarga. Sedihnya, banyak keluarga di zaman
ini sudah terlalu sibuk dengan kegiatan mengejar
uang. Kepada sahabat- sahabat yang sedang
Senyuma n Cahaya
“Tatkala tidak ada yang
memberikan Anda bunga
perhatian, coba belajar
memberi diri Anda bunga
penerimaan”

sakit parah sering dititipkan pesan seperti ini:
“tatkala tidak ada yang memberikan Anda bunga
perhatian, coba belajar memberi diri Anda bunga
penerimaan”.
Dengan kata lain, kapan saja lingkungan demikian
kering oleh perhatian, Anda masih punya seorang
sahabat yang bisa merawat diri Anda dengan tulus
dan ikhlas, orang itu adalah diri Anda sendiri.
Dan ini bisa terjadi kalau seseorang bersahabat
dengan dirinya sekaligus hidupnya.
Seorang wanita yang tidak
saja sembuh tapi juga utuh
jiwanya menulis pesan
indah seperti ini: “tatkala
saya menerima dan mencintai diri saya apa
adanya, kehidupan kemudian berubah wajah
menjadi bunga yang indah”. Ini tidak saja dialami
oleh wanita ini, juga dialami oleh banyak sekali
pejalan kaki ke dalam diri.
Merawat taman, memelihara binatang, bernyanyi
atau bermain bersama anak-anak adalah sebagian
cara yang disarankan. Sahabat-sahabat yang
jiwanya sudah mekar mengerti, saat kita merawat
orang atau mahluk lain, kita tidak saja sedang
berbagi, kita juga sedang menghidupkan energi
“Berkah cinta
adalah cinta itu
sendiri”

Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
kebaikan yang ada di dalam diri. Dalam bahasa
yang indah: “berkah cinta adalah cinta itu sendiri”.
Di Tantra pernah ditulis pesan seperti ini: “begitu
nafas masuk dan nafas keluar seimbang, di
sana seseorang memiliki energi berkelimpahan
di dalam”. Ciri utama sahabat yang sedang
sakit, nafas keluarnya lebih panjang dari nafas
masuk. Sebagai akibatnya, mereka terus menerus
mengalami defisit (kekurangan) energi.
Dan yang bertanggung jawab pada keadaan
kekurangan energi ini adalah kecenderungan
untuk membuang banyak energi melalui
kemarahan, iri, dengki, tersinggung, merasa
tidak diperhatikan dan sejenisnya. Di titik inilah
meditasi sangat diperlukan.
“Cinta adalah nama lain dari cahaya
yang tersenyum”
“Meditasi menyembuhkan Anda dengan cara
menerima diri Anda apa adanya”, demikian
pesan yang kerap terdengar di sesi-sesi meditasi.
Jangankan kebaikan dan kesempurnaan, bahkan
kemarahan pun belajar untuk diterima dalam
meditasi.
Senyuman Cahaya

Perhatikan bunga indah yang sedang mekar. Dalam
bunga indah yang berbau wangi ada kotoran
yang berbau busuk. Tidak bisa kita mengeluarkan
kekotoran dari bunga. Jiwa mulai sembuh dan
utuh tatkala bisa menerima dan mendekap baik
bunga kebaikan sekaligus sampah kemarahan.
Ingat jiwa-jiwa yang indah, kemarahan adalah
sampah yang sedang berevolusi menjadi bunga”.
Dengan pendekatan seperti ini, jiwa tidak saja
sembuh dan utuh, jiwa juga berbagi cahaya ke
mana-mana. Dalam tatapan mata, senyuman,
kata-kata yang terucap di bibir, keteladanan dalam
keseharian, semuanya memancarkan cahaya. Di
kedalaman yang dalam pernah terdengar pesan
indah seperti ini: “Cinta adalah nama lain dari
cahaya yang tersenyum”.
32
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Seorang wanita peserta meditasi yang jiwanya
luka mendalam karena memiliki Ibu tiri bertanya
polos seperti ini: “apakah diam seribu bahasa
kepada ibu tiri sebuah kesalahan?”. Tergantung
pada isi diamnya. Kalau dalam diamnya seseorang
terbakar oleh kemarahan dan dendam, tanpa
disadari dan tanpa diniatkan sedang mengirim
vibrasi-vibrasi buruk.
Dan seperti melempar sampah ke rumah tetangga,
tangan yang bersangkutan akan kotor. Dengan
K eheninga n Y a ng Menawa n
“Keheningan adalah
rahim dari mana cinta
yang sempurna
terlahir”
33
tangan yang kotor ini suatu waktu ia akan
didatangi lalat yang juga kotor. Seperti itulah
kemarahan dan dendam membuat perjalanan
jiwa jadi semakin menyedihkan dari hari ke hari.
Cerita akan lain kalau seseorang diam tapi di
dalamnya netral tanpa kebencian tanpa makian.
Serupa melihat orang-orang di desa yang ribut
dan riuh dengan sound sistem, mercon, pesta
tuak. Di satu sisi mereka tidak pernah merantau, di
lain sisi sekolah dan bacaannya sangat pas-pasan.
Mengharapkan mereka
agar sopan dan
santun, mirip dengan
mengharapkan serigala
untuk makan rumput.
Berhadapan dengan
keadaan-keadaan seperti
ini, disarankan seorang
pencari kembali ke titik netral yang tanpa pujian
dan tanpa makian. Dengan cara ini, seseorang
tidak mengirim sampah ke tetangga, sekaligus
tangan juga tidak kotor.
Yang paling indah adalah diam yang memancarkan
cinta. Ini yang dilakukan oleh jiwa-jiwa
tercerahkan. Ia mirip dengan apa yang dilakukan
”Dalam diamnya
pepohonan
mengolah racun
karbon menjadi
udara segar
yang sangat
dibutuhkan”
34
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
pepohonan. Dalam diamnya pepohonan mengolah
racun karbon menjadi udara segar yang sangat
dibutuhkan.
Konkritnya, kapan saja Anda dilukai jiwanya,
lebih-lebih dilukai oleh orang-orang dekat di mana
Anda tidak bisa lari, pandang secara mendalam
jejaring rumit penderitaan yang ada di balik
orang-orang yang melukai. Ia bisa berupa orang
tua yang berantakan, masa kecil yang terlukai,
keinginan yang tidak pernah tercapai, lingkungan
yang berisi terlalu banyak kekerasan.
Keheningan Yang Menawan
35
“Ketika para mahluk dipandang sebagai ibu,
mereka tidak saja tidak tertarik melukai, mereka
juga ikut berdoa untuk keselamatan Anda”
Begitu jejaring rumit penderitaan terlihat terang
transparan, biasanya kemarahan di dalam lenyap,
ia digantikan oleh munculnya energi-energi kasih
sayang. Dan energi kasih sayang ini mengirim
vibrasi indah baik pada orang lain maupun pada
yang bersangkutan.
Di jalan kesembuhan jiwa, ini energi kesembuhan
yang indah menawan. Sebuah penelitian
menunjukkan, anak-anak mahasiswa yang
menonton film Bunda Teresa memiliki kekebalan
tubuh yang jauh lebih baik dari anak-anak yang
menonton film biasa. Penelitian lain menunjukkan,
orang-orang yang punya binatang peliharaan di
rumah memiliki resiko terkena serangan jantung
jauh lebih kecil.
Di jalan pencerahan lebih dalam lagi. Sebelum
terlahir jadi manusia sekarang ini, kita pernah lahir
dalam jumlah yang tidak berhingga. Ini berarti
ada tidak berhingga jumlah mahluk di alam ini
yang pernah menjadi ibu kita, lengkap dengan
seluruh pengorbanan dan kasih sayangnya.
Itu sebabnya mahluk tercerahkan memandang
semua mahluk sebagai ibu. Begitu mereka
ditempatkan sebagai ibu, tidak saja mereka tidak
tertarik melukai, pada saat yang sama yang
bersangkutan memancarkan cahaya belas kasih.
Inilah yang disebut dengan keheningan yang
menawan.
36
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Dalam sebuah penerbangan menuju Bali, seorang
wisatawan yang sudah berkunjung ke Bali berkalikali
ditanya sebab kenapa ia suka mengunjungi
Pulau Bali. Dengan spontan wisatawan ini
menjawab: “yang khas dari pulau ini adalah
senyuman orang-orangnya”.
Dengan kata lain, senyuman bukanlah persoalan
sederhana. Ia bermakna jauh lebih dalam
dari sekadar bibir yang melengkung. Ia yang
Lengku nga n Y a ng
Menyembuhka n
”Senyuman adalah
sebentuk dekapan
lembut seseorang pada
jiwa yang bersemayam
di dalam”
37
kerap tersenyum mengerti, awalnya senyuman
memang sekadar sapaan pada orang-orang untuk
menunjukkan kalau kita bersahabat.
Begitu dilakukan
berkali-kali, lebih-lebih
dengan cara yang lebih
dalam lagi, senyuman
berubah wajah menjadi
cahaya penerimaan
yang dipancarkan ke
dalam diri. Terutama
karena senyuman
adalah sebentuk dekapan lembut seseorang
pada jiwa yang bersemayam di dalam.
Setiap sahabat yang meditasinya sudah mendalam,
terbiasa tersenyum pada setiap berkah kekinian
– entah ia menjengkelkan atau menyenangkan
– suatu hari akan mengerti, ternyata senyuman
adalah bunga indah yang kita bagikan kepada
dunia.
Ringkasnya, senyuman adalah jembatan yang
menghubungkan seseorang baik pada kehidupan
di luar maupun di dalam. Di Barat ada cerita
tentang Norman Cousins yang pernah divonis
terkena penyakit sangat serius yang penuh
“Hidup serupa
tinggal di losmen.
Setiap hari tamunya
berganti. Dan siapa
pun tamu yang
datang. Jangan
pernah lelah untuk
tersenyum”
38
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
komplikasi. Kemudian ia menyewa motel kecil
serta menghabiskan waktu lama hanya menonton
film-film yang lucu dan mengundang senyuman.
Untuk membuat ceritanya ringkas, beberapa
waktu kemudian Norman Cousins sembuh dari
penyakit rumit ini. Pelajaran yang bisa ditarik
dari sini, dan ini juga dibenarkan oleh sejumlah
hasil penelitian, ternyata tawa dan senyuman
meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Untuk
kemudian membantu tubuh bisa menyembuhkan
dirinya.
”Tatkala seseorang tersenyum, ia tidak saja
sedang berbagi cahaya pada orang lain, tapi
juga sedang membawa lilin penerang pada
kegelapan yang ada di dalam diri”
Terinspirasi dari sini, layak direnungkan untuk
tekun melatih diri agar selalu tersenyum. Di
dunia spiritual mendalam khususnya, ada banyak
pencari yang sangat mengagumi senyuman
sebagai jalan spiritual.
Perhatikan salah satu puisi Rumi: “hidup serupa
tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti.
Dan siapa pun tamu yang datang. Jangan
Lengkungan Yang Menyembuhkan
39
pernah lelah untuk tersenyum”. Simpelnya,
hidup memang sebuah persinggahan sementara.
Kadang dikunjungi kesedihan kadang dikunjungi
kesenangan. Dan tugas seorang pencari yang
sudah dalam hanya tersenyum.
Lebih-lebih di dunia meditasi. Di tingkat
kesempurnaan, berlatih meditasi adalah berlatih
tersenyum. Jika Anda bisa tersenyum pada
kesenangan, itu artinya Anda jiwa yang biasa. Bila
Anda bisa tersenyum pada kesedihan, itu artinya
Anda jiwa yang bercahaya.
Dalam bahasa yang sederhana namun dalam,
tatkala seseorang tersenyum, ia tidak saja sedang
berbagi cahaya pada orang lain, tapi juga sedang
membawa lilin penerang pada kegelapan yang
ada di dalam diri. Inilah yang disebut dengan
lengkungan yang menyembuhkan.
40
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Apa praktik spiritual yang mudah, sederhana
namun mendalam?, demikian banyak anak muda
bertanya. Asal melakukannya secara tulus, ikhlas
dan jujur, senyuman adalah sebuah praktik
spiritual yang mendalam. Terutama senyuman
yang jauh lebih dalam dari sekadar bibir yang
melengkung.
Di daerah-daerah tua di mana senyuman masih
sangat dimuliakan, seperti di daerah pedalaman
Yogyakarta, Bali, Kalimantan, Tengger, Banten,
Senyuma n Juga
Menyembuhka n
”Asal melakukannya
secara tulus, ikhlas dan
jujur, senyuman adalah
sebuah praktik spiritual
yang mendalam”
41
Tibet, Peru, India, dll terlihat sekali kualitas
kehidupan yang berbeda. Tidak saja senyumannya
berbeda, kualitas persahabatan dengan kehidupan
serta orang-orang juga berbeda.
Seorang sahabat asli Tengger Jawa Timur
bercerita, kalau seseorang berjalan kaki di
belakang orang lain, sebelum ia dipersilahkan
untuk duluan, ia akan terus berjalan di
belakang. Bahkan tatkala orang yang berjalan
duluan istirahat pun ia akan ikut duduk
istirahat menunggu dipersilahkan jalan duluan.
Serangkaian contoh kecil
yang bercerita tentang
kehidupan yang mulia.
Ini bisa terjadi karena
manusia rajin tersenyum
dalam kehidupan. Tidak saja tersenyum pada
orang-orang yang dijumpai, tapi juga tersenyum
pada setiap putaran dan berkah kehidupan yang
datang.
Sederhananya, ada dua dampak yang ditimbulkan
senyuman yakni dampak ke dalam dan dampak
ke luar. Senyuman menimbulkan banyak dampak
ke dalam. Dari meningkatnya kualitas penerimaan
pada kehidupan, semakin dalamnya pengertian
“Senyuman lebih
dalam dari sekadar
bibir yang
melengkung”
42
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
seseorang akan kehidupan, sampai dengan
semakin indahnya hati seseorang.
Semakin banyak seseorang tersenyum, semakin
dalam seseorang belajar menerima hidupnya.
Sekaligus semakin banyak cahaya pengertian
yang ia pancarkan pada semua luka jiwa yang
ada di dalam. Sebagai akibatnya, seseorang tidak
saja mudah sembuh jiwanya, tapi juga belajar
memasuki gerbang ke-u-Tuhan.
Senyuman Juga Menyembuhkan
“Senyuman adalah satu-satunya lengkungan
yang bisa meluruskan semua hal yang bengkok
dalam kehidupan”
Dari gerbang ke-u-Tuhan inilah kemudian
lahir wajah hati yang indah. Sebuah hati
yang menyerupai bunga. Ia tidak saja berbagi
keindahan, tapi juga merawat kehidupan dengan
penuh senyuman. Ini rahasia yang ada di balik
banyak jiwa yang bercahaya seperti Nelson
Mandela.
Disamping berdampak ke dalam, senyuman juga
berdampak ke luar. Suatu hari ada Guru karate
tingkat tinggi di pulau Okinawa Jepang yang
43
dicegat dan ditantang berkelahi oleh tentara
Amerika yang sedang mabuk oleh alkohol.
Dengan tersenyum Guru karate ini membungkuk,
serta mohon diri menjauh.
Seorang muridnya yang melihat pemandangan
seperti ini kemudian bertanya esok harinya
kenapa Gurunya tidak memukul saja pemabuk
tadi malam. Dengan tersenyum Guru karate ini
menjawab: “belajar karate adalah belajar agar
selalu tersenyum di depan kehidupan”.
Itu sebabnya, di dunia pelayanan spiritual
khususnya, sudah lama dikenal ungkapan tua
sepert ini: “senyuman adalah satu-satunya
lengkungan yang bisa meluruskan semua hal
yang bengkok dalam kehidupan”. Tidak saja halhal
bengkok di luar yang bisa diluruskan, halhal
bengkok di dalam seperti luka jiwa juga bisa
diluruskan.
44
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Tatkala Anda tidak cocok dengan atasan, Anda
bisa pindah tempat kerja. Saat Anda tidak cocok
dengan tetangga, Anda bisa pindah rumah. Tapi
jika Anda punya anak bermasalah, atau dititipi
anak berkebutuhan khusus, Anda tidak bisa
lari, satu-satunya cara yang disarankan adalah
mengolahnya menjadi Sang Jalan.
Untuk membantu orang tua anak-anak
berkebutuhan khusus dari seluruh Bali menemukan
Sang Jalan, Rabu tanggal 13 Mei 2015 lebih
Cinta Menyembuhka n Jiwa
“Rasa sakit adalah
Guru yang
menyamar”
45
dari seribu orang tua anak-anak berkebutuhan
khusus dikumpulkan oleh dinas pendidikan
provinsi Bali serta keluarga spiritual Compassion
di Art Center Denpasar dari jam 10 pagi hingga
jam 16 sore.
Pesannya sederhana,
berguru pada rasa sakit
yang hadir di dalam.
Setiap sahabat yang sudah
melewati banyak sekali
rasa sakit, sujud di depan rasa sakit, berlindung
pada rasa sakit, biasanya mengerti, ada pelajaran
yang sangat indah yang disembunyikan
di balik rasa sakit. Pelajarannya sederhana
tapi mendalam yakni rasa sakit itu sangat
memurnikan sekaligus sangat menghaluskan.
Proses pemurnian dan penghalusan ini terjadi,
kalau seseorang tidak melawan rasa sakit.
Sebaliknya sujud dan berguru pada rasa sakit.
Dalam bahasa puitis yang indah: “rasa sakit
adalah Guru yang menyamar”. Dengan demikian,
langkah awal menemukan Sang Jalan di balik
hadirnya anak berkebutuhan khusus adalah selalu
melihat anak berkebutuhan khusus sebagai Guru
yang menghaluskan dan menyempurnakan.
“Saya berlindung
kepada rasa sakit
sakral yang ada di
dalam diri”
46
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Dengan acuan seperti ini, rasa sakit yang dihadirkan
anak-anak berkebutuhan khusus berhenti
menjadi godaan, cobaan, apa lagi hukuman.
Sebaliknya, ia merubah kehidupan yang tadinya
penuh rasa sakit, menjadi jalan pulang. Kepada
orang tua anak-anak berkebutuhan khusus sering
diberikan mantra seperti ini: “saya berlindung
kepada rasa sakit sakral yang ada di dalam diri”.
Di Bali, jalan seperti ini oleh tetua Bali disebut
meshiva raga (berguru pada Shiva yang ada di
dalam diri). Di Buddha, jalan ini disebut sebagai
jalan menemukan tanah suci yang ada di dalam
diri. Shiva atau Buddha di dalam bisa hadir
melalui berbagai pengalaman. Di zaman ini, rasa
di dalam yang sangat menghaluskan adalah rasa
sakit.
Dan proses transformasi spiritual seperti ini bisa
terjadi, kalau seseorang berhenti menyebut rasa
sakit sebagai hukuman, sebaliknya berkonsentrasi
pada melihat rasa sakit sebagai bimbingan.
”Siapa saja yang tekun dan tulus diangkat oleh
cinta, suatu hari akan mengalami pengalaman
spiritual yg indah sekali yakni mekar dalam cinta
Cinta Menyembuhkan Jiwa
47

Konkritnya, perlakukan setiap rasa sakit
keseharian yang dihadirkan anak berkebutuhan
khusus sebagai sarana untuk menyempurnakan
cinta.
Orang biasa mengenal istilah jatuh cinta. Artinya,
kesadarannya sedang jatuh karena sedang
mencintai seseorang. Sebagian remaja bisa lupa
segala-galanya karena jatuh cinta. Para sahabat
yang tekun dan tulus berguru pada rasa sakit di
dalam, akan berevolusi lebih jauh. Mereka tidak
lagi jatuh cinta, melainkan diangkat oleh cinta.
Melalui pendekatan ini, anak-anak berkebutuhan
khusus tidak menggoda lagi orang tua, melainkan
mengangkat jiwa orang tuanya ke tataran yang
lebih tinggi. Di satu sisi sejumlah kegelapan
seperti kemarahan meredup, di lain sisi sejumlah
cahaya seperti permakluman, pengertian, cinta
terbit di dalam diri. Cirinya, seseorang mulai
mengalami keterhubungan sebagai akar dari
semua kesembuhan.
Siapa saja yang tekun dan tulus diangkat oleh
cinta, suatu hari akan mengalami pengalaman
spiritual yg indah sekali yakni mekar dalam cinta
(bloom into love). Orang-orang seperti ini mirip
kupu-kupu. Tidak perlu mencari ke sana ke mari,
48
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
madu kedamaian ada di titik pusat di dalam.
Inilah perjalanan spiritual yang disarankan ke
para orang tua anak-anak berkebutuhan khusus.
Cinta Menyembuhkan Jiwa
49
Nyanyian Kedamaian
50
“Kapan cukup itu bisa disebut cukup?”, ini
pertanyaan klasik umat manusia yang berumur
sudah sangat tua. Ia ditanyakan dari satu generasi
ke generasi lain tanpa memberikan jawaban akhir.
Seperti menyisakan pesan, titik keseimbangan
bernama rasa berkecukupan berbeda dari satu
generasi ke generasi yang lain.
Bersyukur Itu
Menyembuhka n
”Sesederhana apa pun
ekonomi Anda, seterbatas
apa pun pendidikan
Anda, sesimpel apa pun
keluarga Anda, belajar
merasa berkecukupan”
51
Perjumpaan dengan banyak sekali sahabat yang
badan serta jiwanya sakit di sesi-sesi meditasi
menunjukkan, terlihat jelas kalau mereka sangat
kelelahan. Tidak saja fisiknya lelah, pikiran serta
jiwanya juga sangat kelelahan.
Dan di balik
kelelahan ini
tentu tersembunyi
banyak alasan.
Salah satu alasan
penting adalah
ketiadaan rasa
b e r k e c u k u p a n .
Tidak saja soal materi yang membuat seseorang
kurang berkecukupan, pasangan hidup,
anak-anak, tetangga bahkan pemerintah dan
masyarakat pun terlihat sangat tidak memuaskan.
Sebagai akibatnya, seseorang menumpuk banyak
sekali keluhan di dalam dirinya selama bertahuntahun.
Mirip dengan menumpuk sampah, kalau
tidak diolah maka sampah ini akan menjadi
sumber banyak sekali penyakit. Ini yang membuat
sejumlah sahabat menuanya sangat sengsara.
Sebelum itu betul-betul terjadi dalam kehidupan,
sangat penting untuk mendidik diri agar merasa
”Bersyukur tidak saja
membuat jiwa jadi sejuk
dan teduh di dalam,
bersyukur adalah
jembatan pendek yang
membuat jiwa mudah
terhubung”
52
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
berkecukupan. Ia bisa dimulai dengan merasa
berkecukupan dengan apa-apa yang ada di
dalam diri Anda. Sesederhana apa pun ekonomi
Anda, seterbatas apa pun pendidikan Anda,
sesimpel apa pun keluarga Anda, belajar merasa
berkecukupan.
Di negara-negara Barat yang ekonomi dan
pengetahuannya lebih maju ditemukan hasil
penelitian yang sangat menyentuh hati. Bila di
negara-negara terbelakang manusia tidak bisa
makan karena miskin, di negara-negara maju
jumlah manusia yang tidak bisa makan juga
menaik terus.
Sebabnya tentu bukan karena kemiskinan
melainkan ketakutan. Takut akan masa depan,
takut akan kematian, takut kalau mereka tidak
dihargai orang, serta sejumlah ketakutan lainnya.
Membengkaknya anggaran kesehatan di negaranegara
maju memberikan pembenaran akan
kecenderungan ini.
“Ia yang rajin tersenyum sedang menanam bibit
kesembuhan di dalam dirinya
Bersyukur Itu Menyembuhkan
53
Semua ini seperti sebuah alarm spiritual yang
berbunyi di seluruh muka bumi, belajar mendidik
diri merasa berkecukupan, belajar bersyukur
dalam kehidupan. Bersyukur tidak saja membuat
jiwa jadi sejuk dan teduh di dalam, bersyukur
adalah jembatan pendek yang membuat jiwa
mudah terhubung.
Seorang pemain bola tingkat dunia pernah
bercerita: “waktu kecil saya pernah menangis
berhari-hari karena ibu mengatakan tidak punya
uang untuk membelikan saya sepatu. Tangisan
saya baru berhenti tatkala saya melihat ada anak
lain yang tidak punya kaki”.
Alasan utama kenapa orang susah merasa
berkecukupan, sulit merasa bersyukur karena
selalu membandingkan hidupnya dengan
mereka yang lebih tinggi. Untuk para sahabat
yang mau jiwanya sembuh dan utuh, layak
direnungkan untuk menoleh ke bawah. Di bawah
sana ada banyak manusia yang masih berjuang
dengan hidupnya. Dengan melihat mereka, rasa
berkecukupan, rasa syukur mudah timbul. Dan
yang paling penting, ini cara indah untuk terus
menerus menanam bibit kesembuhan di dalam
diri.
54
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Seorang wanita dengan wajah yang penuh kerutan
bertanya secara menyentuh hati seperti ini: “apa
yg mesti dilakukan pada sakit hati yang sudah
menumpuk-numpuk selama bertahun-tahun?”.
Belajar dari banyak sekali sahabat yang sakit di
sesi meditasi, hati-hati dengan luka jiwa yang
menumpuk selama bertahun-tahun.
Sakit hati, marah, dendam yang menumpuk
selama bertahun-tahun inilah yang suatu hari
berubah wajah menjadi kanker serta penyakit lain
Jala n Indah K esembuha n
“Keterhubungan spiritual
adalah akar semua
kesembuhan jiwa”
55
yang sangat menakutkan. Sehingga lebih cepat
seseorang sembuh dari luka-luka jiwa seperti ini,
lebih kecil kemungkinan seseorang menggendong
rasa sakit di umur tua.
Ciri khas para sahabat
yang menggendong
p e n ya k i t – p e n ya k i t
berat, mereka cenderung
dicengkram
secara berlebihan oleh
konsep harga diri.
Semakin tinggi seseorang menghargai dirinya,
semakin tinggi kemungkinan dia tersinggung
dan marah pada orang lain.
Itu sebabnya di sesi-sesi meditasi banyak
sahabat yang diundang memeditasikan sang
aku (meditation on self). Perhatikan tubuh,
berdoa tidak berdoa, meditasi tidak meditasi,
semua tubuh bertumbuh serta menua. Teknologi
kedokteran serta bedah plastik hanya bisa
memperpanjang umur dan menunda penuaan.
Persoalan waktu, semua tubuh akan mati.
Perasaan juga serupa. Ada orang yang mengira
meditasi bisa membuat orang bahagia dan senang
selama-lamanya. Jangankan manusia biasa,
”Mahluk tercerahkan
melihat kesedihan
hanya seperti
sampah yang
mengalir di sungai.
Ia datang kemudian
lewat”
56
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
bahkan mahluk tercerahkan pun mengalami sedih
dan bad mood. Bedanya, kalau orang biasa diseret
oleh kesedihan, mahluk tercerahkan melihat
kesedihan hanya seperti sampah yang mengalir
di sungai. Ia datang kemudian lewat.
Pikiran tidak banyak berbeda. Sejumlah remaja
mengira kalau meditasi bisa membuat pikiran
selalu positif dan bijaksana. Lagi-lagi pandangan
ini perlu dikoreksi. Mirip dengan awan di langit,
pikiran positif dan negatif datang dan pergi
sesuai dengan hukumnya. Tugas meditasi hanya
menyaksikan awan-awan ini, sehingga suatu hari
bisa menjadi langit biru yang tidak berhingga.
”Penyakit serupa daun kering.
Ketidakseimbangan emosi dan pikiran adalah
batangnya. Dan akar semua kesembuhan jiwa
adalah keterhubungan spiritual”
Sebagai bahan kontemplasi pelengkap meditasi,
sangat disarankan pada sahabat yang luka jiwa
untuk memandang langit tatkala malam hari
yang terang. Di sana terlihat kalau alam berisi
banyak sekali planet. Jumlahnya bahkan tidak
bisa dihitung.
Jalan Indah Kesembuhan
57
Dan planet kita bumi hanya salah satu planet kecil
di tengah samudra planet yang tidak berhingga
jumlahnya. Diri kita lebih kecil lagi. Diri ini hanya
mahluk kecil di planet yang juga kecil.
Lebih indah lagi kalau belajar melayani mahlukmahluk
bawah seperti binatang dan tetumbuhan.
Merawat binatang dan tetumbuhan tidak saja
membuat harga diri jadi semakin kecil, tapi juga
menjadi sarana keterhubungan spiritual.
Sebagaimana kerap dibagikan di sesi meditasi,
penyakit serupa daun kering. Ketidakseimbangan
emosi dan pikiran adalah batangnya. Dan akar
semua kesembuhan jiwa adalah keterhubungan
spiritual. Inilah jalan indah kesembuhan jiwa.
58
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
“Mencari tempat di mana tidak ada kesedihan dan
penderitaan”, itu tema pencarian spiritual banyak
sekali orang. Itu juga alasan kuat kenapa industri
pariwisata terus bertumbuh tidak mengenal istilah
turun. Sejumlah pencari bahkan harus menjual
tanah warisan agar bisa pergi sangat jauh untuk
menemukan tempat seperti ini.
Dan sebagaimana sudah dialami banyak orang,
semua orang harus kecewa pada akhirnya. Ide
tentang mencari tempat yang sepenuhnya bebas
Rumah K esembuha n
”Tanpa lumpur yang
kotor, bunga lotus
mana pun tidak akan
bertumbuh”
59
dari penderitaan, tidak saja naif, tapi juga menjadi
penghalang penting pertumbuhan spiritual.
Terutama karena tanpa penderitaan, maka cinta
dan belas kasih tidak akan pernah tumbuh.
Mirip dengan kolam yang penuh dengan
bunga lotus. Tanpa lumpur yang kotor,
bunga lotus mana pun tidak akan bertumbuh.
Dengan cara yang sama, tanpa penderitaan
jiwa mana pun tidak akan bercahaya.
Dalam perspektif
seperti ini, penderitaan
tidak dibuang,
sebaliknya digunakan
sebagai lahan-lahan
pertumbuhan jiwa. Lari
dari penderitaan mirip dengan bunga lotus yang
lari menjauh dari lumpur.
Itu sebabnya di depan ribuan orang tua anak-anak
yang berkebutuhan khusus telah diceritakan,
penderitaan bukan hukuman, ia adalah ladangladang
subur tempat jiwa bisa bertumbuh. Lari
dari penderitaan mirip dengan seseorang yang
tertusuk panah, kemudian menambahkan panah
ke dua di tempat yang sama.
“Penderitaan bukan
hukuman, ia adalah
ladang subur
tempat jiwa-jiwa bisa
bertumbuh”
60
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Memiliki anak-anak berkebutuhan khusus,
memiliki anggota keluarga yang bermasalah tentu
saja menyakitkan. Tapi mengeluh berlebihan, apa
lagi menyebut ada orang yang mengirimi Anda
black magic, adalah panah ke dua yang Anda
tusukkan ke luka jiwa yang sama.
”Hanya di tengah lumpur penderitaanlah
maka bunga lotus cinta dan
belas kasih bisa mekar”
Itu sebabnya, di jalan meditasi peserta diminta
memfokuskan seluruh energi untuk menjadi
penyembuh bagi diri sendiri. Energi kesembuhan
tersedia secara berlimpah di dalam. Dan energi
kesembuhan ini mulai bisa diakses tatkala
seseorang mulai bisa menerima penderitaan.
Di jalan spiritual mendalam, para pencari
tidak saja menerima penderitaan, tetapi juga
memperlakukan penderitaan sebagai ibu dari
mana bayi-bayi cantik cinta dan belas kasih akan
terlahir. Itu sebabnya Bunda Teresa menikmati
sekali puluhan tahun hidupnya di tengah
penderitaan kota Kalkuta.
Hanya di tengah lumpur penderitaanlah maka
bunga lotus cinta dan belas kasih bisa mekar.
Rumah Kesembuhan
61
Konkritnya, berhenti mencari tempat yang bebas
sepenuhnya dari penderitaan, belajar bertumbuh
di tengah lumpur-lumpur penderitaan, izinkan
bunga lotus cinta dan belas kasih mekar di sana.
Caranya, gunakan setiap bentuk penderitaan
sebagai kesempatan untuk menyempurnakan
cinta dan belas kasih. Ia mirip dengan apa yang
dilakukan bunga di depan cahaya matahari yang
panas. Cahaya matahari memang panas sekali
di siang hari, tapi di sana bunga-bunga mekar
indah sekali. Dengan pendekatan seperti ini, jiwa
berubah wajah menjadi rumah kesembuhan.
Bagi jiwa jenis ini, kesembuhan bukanlah keadaan
tanpa penyakit. Melainkan sebuah perasaan
keterhubungan yang sangat mendalam. Di tingkat
kesembuhan seperti ini, seseorang melihat dirinya
di mana-mana. Sebagai akibatnya, jangankan
melukai hati orang, bahkan menginjak rumput
pun dipikirkan secara berulang-ulang. Terutama
karena sudah menyadari dan mengalami, setiap
rasa sakit yang dilakukan ke mahluk lain akan
balik ke diri kita dalam bentuk rasa sakit. Setiap
cinta yang dipancarkan ke mahluk lain akan balik
ke diri kita dalam bentuk cinta yang lebih indah.
62
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Kedamaian

Salah satu pesan indah Upanishad berbunyi
seperti ini: “lama sekali saya tersesat dalam
pencarian. Saya menemukan kembali diri saya
dalam pelayanan. Tatkala pelayanan dilakukan
secara mendalam, ternyata yang melayani dan
yang dilayani sama”.
Ia yang mata spiritualnya terbuka mengerti, ada
banyak sekali jiwa-jiwa yang tersesat di alam ini.
Angka bunuh diri yang menaik di mana-mana,
korban narkoba yang grafiknya menanjak, korupsi
Tirtha K edamaia n
“Mirip dengan apa yg
dilakukan matahari pada
bunga, cacian membuat
jiwa mekar indah
menawan”
65
yang tidak mengenal henti adalah sebagian kecil
tanda banyaknya jiwa-jiwa yang tersesat.
Lebih dalam dari itu, banyak sekali manusia yang
setelah wafat harus terjun ke alam bawah. Mereka
yang licik terlahir jadi ular, mereka yang suka
berkelahi terlahir jadi anjing. Dan setelah terlahir
di sana, tidak saja hidupnya menderita, tapi juga
sangat sulit untuk bisa naik menjadi manusia
kembali.
Berbeda dengan
jiwa-jiwa yang
tersesat yang lapar
begini serta haus
begitu, jiwa-jiwa
yang melangkah
pulang tidak saja
rasa lapar dan hausnya berkurang, tapi juga
menemukan keindahan dalam pelayanan. Dari
pelayanan yang berskala besar seperti Bunda
Teresa sampai dengan pelayanan kecil seperti ibu
yang merawat anak-anak di rumah.
Bagi manusia yang lapar, pelayanan itu
menyakitkan. Tidak saja waktu, tenaga, uang
dan barang yang menghilang, sering kali harus
mengalami hujan cacian. Namun bagi jiwa-jiwa
”Bagi jiwa-jiwa yang
melangkah pulang,
pelayanan itu sejenis
sumber air kedamaian
yang tidak pernah
kering”
66
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
yang melangkah pulang, pelayanan itu sejenis
sumber air kedamaian yang tidak pernah kering.
Sebagaimana dialami oleh jiwa-jiwa bercahaya
seperti Bunda Teresa, Mahatma Gandhi dan
Nelson Mandela, di permukaan pelayanan
sepertinya penuh dengan beban. Tapi di
kedalaman yang dalam, pelayanan membuat
banyak manusia merawat taman di dalam hingga
indah menawan.
Awalnya ego dan keakuan mengecil. Perasaan
lebih penting, lebih tinggi, lebih pintar yang
menjadi penghalang penting perjalanan spiritual,
pelan perlahan dikikis habis oleh ketekunan
pelayanan. Ada rasa sakit tentu saja akibat keakuan
dan ego ditampar oleh cacian dan makian orang.
Ketekunan dan ketulusan kemudian membuat
tubuh emosi di dalam jadi tahan banting oleh
cacian dan makian. Anehnya, saat ego dan
keakuan melemah, jembatan keterhubungan
menjadi semakin kuat.
“Anda melihat bunga Anda di mata
semua orang”
Tirtha Kedamaian
67
Tandanya, seseorang melihat dirinya di manamana.
Dalam bahasa yang sederhana namun
mendalam: “Anda melihat bunga Anda di mata
semua orang”. Jangankan di mata anak-anak yang
polos, bahkan di mata musuh yang mencaci pun
seseorang melihat bunga. Mirip dengan apa yang
dilakukan cahaya matahari panas pada bunga
yang siap mekar, cacian musuh juga membuat
jiwa di dalam mekar indah menawan.
Di jalan bakti (devotion), pencapaian ini disebut
kebersatuan. Simbol angkanya satu. Di jalan
pengetahuan (jhnana), pencapaian ini disebut
kebebasan. Simbol angkanya nol (kosong). Di
antara kedua angka satu dan nol inilah ada tirtha
(air suci) yang memercik yakni tirtha kedamaian.
68
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
“Apa yang ada di balik para sahabat yang sangat
membenci setan dan iblis?”, demikian seorang
anak muda bertanya. Serupa sekolah, perjalanan
spiritual di awal juga sangat hitam-putih. Dilarang
begini dilarang begitu. Ini kawan itu lawan. Tapi
begitu seseorang bertumbuh dewasa, ia mulai
bisa melihat wajah kehidupan yang jauh di luar
kotak hitam-putih.
Perjalanan meditasi serupa. Tidak sedikit sahabat
yang bertempur di dalam dirinya saat memulai
Tama n Orga nik K edamaia n
”Di taman meditasi, semua
salah-benar, duka-suka,
cacian-pujian diperlakukan
sebagai bahan-bahan
organik yang sedang
berproses”
69
meditasi. Norma, agama, keyakinan selalu muncul
di awal sebagai hakim-hakim yang membuat
banyak pemula berkelahi dengan dirinya. Rasa
bersalah, memori buruk, perasaan berdosa juga
ikut memperparah perkelahian di dalam.
Dan di taman meditasi, semua
baik-buruk, salah-benar,
duka-suka, cacian-pujian
diperlakukan sebagai bahan
– bahan organik yang sedang
berproses. Ia sesederhana
sampah yang sedang berproses menjadi bunga.
Sesimpel daun kering yang jatuh, kemudian akan
muncul sebagai daun lagi di waktu yang lain.
Jika sebelum disentuh meditasi pikiran sangat
menggenggam. Benar digenggam, salah dibuang.
Setan ditendang, Tuhan ditinggikan. Begitu
seseorang memperlakukan semuanya sebagai
bahan-bahan organik yang sedang berproses,
genggaman pikiran mulai melemah. Semakin
lemah dari hari ke hari.
Itu sebabnya, para sahabat yang meditasinya
mendalam sangat jarang berargumen secara keras.
Lebih jarang lagi menemukan penekun meditasi
dengan pencapaian tingkat tinggi yang menjelek-
“Menyadari
kalau semua
mengalir dalam
keterhubungan,
itulah Nirvana”
70
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
jelekkan orang. Terutama karena pikiran hanya
menggenggam dengan genggaman yang sangat
ringan.
Di jalan meditasi ada pesan yang berbunyi seperti
ini: “anica, anatta, Nirvana”. Semua yang ada di
alam ini tunduk pada hukum ketidakkekalan
(anica). Mahluk hidup atau barang mati semuanya
tidak kekal. Memaksa yang tidak kekal agar kekal,
itulah akar penderitaan.
Begitu seseorang mengerti dalam-dalam anica, ia
akan menemukan wajah diri yang tidak lagi kaku,
melainkan mengalir (anatta). Tidak ada diri yang
kekal, ada diri yang mengalir. Tidak ada diri yang
independen, ada diri yang interdependen.
Mengerti secara mendalam sekaligus mengalami
bahwa semuanya mengalir dalam sebuah
keterhubungan, itulah kedamaian yang menawan
(Nirvana). Di tingkat kedamaian seperti ini, setan
tidak lagi menjadi musuhnya Tuhan, iblis tidak
lagi menjadi kekuatan yang menakutkan.
Belajar mengenali sifat alami setiap energi di
dalam, kemudian jadilah tukang taman organik
kedamaian
Taman Organik Kedamaian
71
Mirip dengan taman yang sesungguhnya,
semuanya adalah bahan-bahan organik yang
sedang berproses sesuai dengan hukumnya
masing-masing. Dan seorang penekun meditasi
mirip dengan tukang taman yang berpengalaman
dan trampil.
Ada pohon kamboja yang memerlukan sangat
sedikit air tapi banyak sinar matahari. Ada pohon
lotus yang butuh banyak air sekaligus banyak
cahaya matahari. Demikian juga dengan badan,
perasaan, pikiran di dalam. Belajar mengenali
sifat alami setiap energi di dalam, kemudian
jadilah tukang taman organik kedamaian. Selamat
datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.
72
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
“Kenapa mengalir sangat ditekankan baik dalam
hidup maupun meditasi?”. Itu pertanyaan banyak
sekali sahabat di sesi-sesi meditasi. Belajar dari
banyak sahabat yang sakit begini sakit begitu,
semua penyakit dan rasa sakit ditandai oleh
energi di dalam yang gagal mengalir.
Protes, tidak puas, tidak pernah merasa cukup
adalah sebagian contoh dari energi yang gagal
mengalir di dalam. Mirip dengan air yang gagal
Su ngai K edamaia n
”Semua penyakit dan rasa
sakit ditandai oleh energi
di dalam yang gagal
mengalir”
73
mengalir, persoalan waktu ia akan berbau busuk.
Bau busuk inilah bibit berbagai macam penyakit.
Coba perhatikan apa-apa yang disebut manusia
sebagai sang diri. Semuanya mengalir. Tubuh
manusia mengalir dari lahir, dewasa, tua, mati.
Pikiran manusia mengalir. Apa yang disebut orang
benar di suatu waktu bisa jadi salah di waktu lain.
Perasaan manusia juga serupa. Sedih, senang,
duka, suka adalah sebagian aliran sungai perasaan.
Dan siapa saja yang
mau pulang ke rumah
kedamaian, tidak ada
pilihan lain selain
belajar mengalir.
Maksudnya mengalir
sederhana, mirip dengan aliran air di sungai,
semuanya (sedih-senang, duka-suka, salah-benar)
didekap dengan kelembutan yang sama.
Di meditasi ada pengandaian yang layak
diendapkan. Penderitaan serupa es beku yang
membatu. Ajaran meditasi serupa matahari yang
memancar. Dan bakti kepada Guru adalah kaca
pembesar yang diletakkan diantara es beku dan
matahari.
”Siapa saja yang mau
pulang ke rumah
kedamaian, tidak ada
pilihan lain selain
belajar mengalir”
74
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Meditasi diandaikan matahari yang menyinari
es beku penderitaan. Terutama melalui kegiatan
menyaksikan yang penuh dengan kasih sayang
(compassionate witnessing), rasa sakit itu terus
menerus diterangi. Sampai suatu hari seseorang
mengalami pandangan terang, ternyata rasa sakit
berakar pada pikiran yang gagal mengalir.
Proses meditasi menerangi es beku penderitaan
di dalam berjalan secara pelan dan alami. Serta
cenderung berjalan lama. Ia sealami es beku di
kutub sana. Sejalan dengan semakin tekun dan
tulusnya seseorang berjalan di jalan meditasi, es
batunya mencair.
”Begitu semua energi di dalam sepenuhnya
mengalir, kehidupan berubah wajah menjadi
sungai kedamaian”
Di Tantra ada jalan yang lebih cepat tapi
berbahaya yakni bakti kepada Guru. Disebut jalan
cepat, karena memang proses mencairnya lebih
cepat. Disebut berbahaya karena jika melakukan
kesalahan, seseorang meluncur turun ke alam
bawah.
Sungai Kedamaian
75
Itu sebabnya bakti kepada Guru diandaikan
seperti kaca pembesar yang diletakkan diantara
matahari meditasi dan es beku penderitaan.
Proses mencairnya berjalan jauh lebih cepat.
Apa pun jalan yang diambil, entah meditasi atau
bakti kepada Guru, keduanya ditujukan untuk
membuat energi di dalam menjadi sepenuhnya
mengalir. Begitu semua energi di dalam
sepenuhnya mengalir, kehidupan berubah wajah
menjadi sungai kedamaian.
76
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Menanggapi pertanyaan seorang anak muda yang
pintar sekaligus kritis, seorang Guru meminta
dua sendok garam. Sendok garam pertama
dimasukkan ke dalam cangkir kecil. Sendok garam
ke dua dimasukkan ke dalam kolam yang besar.
Sebagai hasilnya, di cangkir kecil tadi airnya terasa
asin. Di kolam yang besar, satu sendok garam tadi
tidak menyebabkan air jadi asin.
Samudra Belas K asih
”Manusia mudah menderita
karena pikiran dan hatinya
sempit dan kecil. Namun begitu
pikiran dan hati bisa dibikin luas
dan lebar, maka seseorang bisa
mengalami kedamaian
selama-lamanya”
77
Pesan spiritualnya sederhana, manusia mudah
menderita (baca: pikirannya terasa asin) karena
pikiran dan hatinya sempit dan kecil. Namun
begitu pikiran dan hati bisa dibikin luas dan
lebar, maka seseorang bisa mengalami kedamaian
selama-lamanya.
Pekerjaan rumahnya
kemudian, apa yang
bisa dilakukan agar
pikiran dan hati jadi
luas, lebar sekaligus
dalam? Perhatikan
mata bayi, ia
m e m a n c a r k a n
kedamaian indah
menawan karena
bebas dari penghakiman. Di mata seorang bayi,
kehidupan semuanya dipandang sebagaimana
adanya.
Tapi begitu bayi ini bertumbuh, aura
kepolosan itu menghilang. Ia digantikan
dengan aura manusia yang penuh dengan
penghakiman. Sekaligus, itulah asal muasal
dari pikiran dan hati yang kecil dan kerdil.
”Kesabaran dan
toleransi sebagai bibitbibit
subur pikiran dan
hati yang luas mirip
dengan karet gelang.
Asal sering ditarik secara
pelan perlahan, lamalama
karet gelang ini
semakin longgar dan
semakin longgar”
78
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Lingkungan yang miskin keteladanan, pendidikan
yang penuh hukuman, orang tua yang memiliki
sedikit kedewasaan hanyalah sebagian faktor di
balik menyempitnya pikiran dan hati manusia
yang bertumbuh dewasa.
Berita baiknya, selalu ada jalan keluar di balik
setiap masalah yang muncul. Kesabaran dan
toleransi sebagai bibit-bibit subur pikiran dan hati
yang luas mirip dengan karet gelang. Asal sering
ditarik secara pelan perlahan, lama-lama karet
gelang ini semakin longgar dan semakin longgar.
”Musuh adalah permata spiritual yang langka,
yang ada di sini untuk membuat hati dan pikiran
jadi luas dan lebar”
Musuh-musuh yang menyakiti, anak-anak yang
bermasalah, tetangga yang penuh curiga, atasan
yang banyak maunya, pasangan hidup yang
pemarah adalah sebagian kekuatan yang ada
di alam yang membuat karet gelang kesabaran
melonggar dari hari ke hari.
Asal tekun, tulus, jujur, pemaaf, melalui proses
waktu karet gelang kesabaran di dalam akan
melonggar. Pengertian adalah modal pertama
Samudra Belas Kasih
79
dalam hal ini. Terutama mengerti kalau kita semua
sama-sama tidak mau menderita, sama-sama
mau bahagia. Lebih dalam lagi kalau seseorang
bisa mengerti jejaring rumit di balik orang-orang
menyakiti.
Di balik orang-orang yang menyakiti, ada jejaring
rumit masa lalu kelabu, luka jiwa di masa kecil,
putus cinta yang berkepanjangan. Bila jejaring
rumit ini terbuka, pengertian muncul, karet
kesabaran melonggar. Dari pohon pengertian
seperti ini, tidak saja bunga kesabaran muncul,
tapi juga mekar bunga belas kasih.
Orang-orang yang menyakiti dan melukai,
mereka tidak lahir untuk mengganggu, mereka
lahir untuk menyempurnakan belas kasih kita.
Makanya di jalan belas kasih (compassion) sering
dikemukakan, musuh adalah permata spiritual
yang langka, yang ada di sini untuk membuat
hati dan pikiran jadi luas dan lebar. Lebih dari itu,
musuhlah yang membimbing manusia berjumpa
kehidupan sebagai samudra belas kasih.
80
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Seorang ibu yang suaminya baru wafat cerita
di kelas meditasi. Tiap kali ia masuk kamar di
siang hari, selalu saja datang burung mengetuk
jendela kamar. Heran dengan kejadian yang
berulang-ulang ini, ia kemudian bertanya: “apa
pesan di balik ini?”. Dengan tersenyum ada yang
menjawab: “burung adalah malaikat sukacita
yang ada di sini untuk mengingatkan semua kalau
kehidupan adalah nyanyian sukacita”
Buru ng K edamaia n
”Kapan saja penderitaan
dan kesedihan berkunjung,
belajar hadir di tengah
penderitaan, dekap
kesedihan seperti mendekap
bayi menangis”
81
Diri yang beku
Sedihnya, teramat sedikit ada mahluk di alam
ini yang mengerti kehidupan sebagai nyanyian
sukacita. Salah satu sebabnya, terlalu banyak
manusia yang hidup dalam diri yang kaku dan
beku. Coba lihat ke dalam saat Anda mengalami
penderitaan seperti ditinggal suami atau disakiti
musuh. Di dalam ada yang menolak dan melawan.
Ia mirip dengan salju yang beku dan kaku.
Inilah diri kaku yang
menghalangi banyak
jiwa untuk melihat
Tuhan sebagai cinta
kasih. Ini juga akar
dari banyak sekali
penderitaan. Dan
praktik meditasi hadir seperti sinar matahari yang
menyinari salju yang kaku beku. Sederhananya,
kapan saja penderitaan dan kesedihan berkunjung,
belajar hadir di tengah penderitaan, dekap
kesedihan seperti mendekap bayi menangis.
Pengertian hadir adalah hadir secara penuh dan
utuh. Penderitaan tidak ditendang, rasa sedih
juga tidak dibuang. Hanya hadir di sana apa
adanya. Rasa sedih, luka jiwa hanya didekap
”Tarik nafas, rasakan
kesedihan tanpa
penghakiman.
Hembuskan nafas,
rasakan kesedihan
tanpa penghakiman”
82
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
tanpa penghakiman sama sekali. Dalam bahasa
meditasi, semuanya dipeluk apa adanya.
Diri yang mengalir
Ezra Bayda memperkenalkan pendekatan tiga
nafas. Kapan saja kesedihan dan penderitaan
berkunjung, belajar untuk hadir secara utuh
dan penuh di tengah ruang kesedihan di dalam,
sekurang-kurangnya sejumlah tiga tarikan dan
hembusan nafas. Tarik nafas, rasakan kesedihan
tanpa penghakiman. Hembuskan nafas, rasakan
kesedihan tanpa penghakiman.
“Pada akhirnya, tidak ada beda antara suara
tetangga yang mencaci dengan burung yang
bernyanyi”
Orang biasa cenderung lari dari kesedihan.
Sebagian orang bahkan dibawa lari oleh
penderitaan sehingga melakukan hal berbahaya
seperti bunuh diri. Meditasi lain lagi, kesedihan
didatangi, penderitaan didekap. Ia mirip dengan
seorang ibu yang mendekap putra tunggalnya
yang sedang menangis.
Burung Kedamaian
83
Dengan cara ini, diri yang kaku beku disinari
cahaya matahari kesadaran. Sebagai hasilnya,
lahir diri yang baru yakni diri yang mengalir.
Inilah diri yang menanam bibit-bibit kesembuhan
dan kedamaian di dalam. Ini juga diri yang
membimbing pulang ke rumah jiwa yang indah.
Diri sejati bernama kesadaran
Penjelasan transformasi dari diri yang kaku
menuju diri yang mengalir kelihatannya mudah.
Tapi pelaksanaannya jauh dari mudah. Bahkan
latihan selama dua puluh tahun pun belum tentu
bisa melakukannya. Cuman, tidak ada pilihan lain
terkecuali melanjutkan pertumbuhan spiritual.
Kelompok spiritual di bawah garis Guru Thich
Nhat Hanh adalah kumpulan manusia yang tekun
dan tulus sekali melatih diri. Kapan saja berbicara
dengan kelompok ini, tiba-tiba akan ada bunyi
bel yang meminta kita untuk jeda dan hening
sebentar. Kemudian hadir secara penuh dan utuh
di saat ini tanpa penghakiman.
Ketekunan untuk berlatih meditasi seperti ini
selama bertahun-tahun, bisa membuat seseorang
melahirkan diri yang baru, yakni diri yang
84
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
bernama kesadaran. Kesedihan datang sadari.
Kesenangan datang sadari. Di tingkat diri seperti
ini, berlaku pendapat sederhana tapi mendalam:
“pada akhirnya, tidak ada beda antara suara
tetangga yang mencaci dengan burung yang
bernyanyi”. Keduanya adalah nyanyian burung
kedamaian yang sama.
85
Burung Kedamaian
86
“Kenapa wanita kalau dicium matanya terpejam?”,
ini pertanyaan banyak remaja pria. Bagi
setiap sahabat yang meditasinya sudah mendalam
mengerti, keindahan yang sesungguhnya ada di
dalam. Keindahan di luar hanya pantulan dari
keindahan harmoni yang ada di dalam.
Sedihnya, sangat sedikit manusia di zaman
ini yang bisa berjumpa keindahan seperti ini.
Ciuma n K edamaia n
“Keindahan sesungguhnya
disembunyikan di dalam.
Keindahan di luar hanya
pantulan dari
keindahan yang ada
di dalam”
87
Kebanyakan manusia harus bertempur dengan
dirinya dan hidupnya. Di jalan belas kasih
(compassion) kerap terdengar pesan seperti ini:
“berbaik hatilah kepada orang-orang yang
menyakiti. Mereka sedang bertempur. Dan
pertempuran sesungguhnya bukan dengan Anda,
melainkan dengan dirinya”.
Ini yang menjelaskan
kenapa hadir hawa
panas di manamana.
Rumah sakit
jiwa penuh, rumah
sakit kebanyakan
pasien, korban
narkoba meningkat,
cerita perceraian dan
bunuh diri sangat
menyentuh hati.
Ringkasnya, sangat jarang ada manusia yang
bisa diajak menemukan harmoni di dalam
diri. Kebanyakan tenggelam di dunia materi.
Di kelas-kelas meditasi kerap diceritakan, ada
banyak sekali benih-benih kekerasan yang
ditanam dalam bathin manusia. Keluarga, sekolah,
pemimpin, masyarakat menanam banyak sekali
“Sadari pikiran
sebagai pikiran, bukan
sebagai kebenaran.
Sadari perasaan
sebagai perasaan,
bukan sebagai diri
Anda. Demikianlah
cara meditasi
menyembuhkan
banyak jiwa”
88
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
benih-benih kekerasan di dalam bathin. Sehingga
mudah dipahami kalau ada banyak manusia
terbakar hanya karena hal yang sangat kecil.
Di tingkat kesembuhan, meditasi mengajarkan
pendekatan selective watering (hanya menyirami
bibit-bibit kedamaian). Caranya, hanya menjumpai
orang-orang yang mendukung perjalanan
kedamaian Anda. Di dalam, setiap kali ada
memori kekerasan muncul, seseorang disarankan
tersenyum pada memori buruk, kemudian tidak
bereaksi baik dalam bentuk ucapan maupun
tindakan.
Ciuman Kedamaian
89
”Dan seburuk atau seindah apa pun keseharian,
semuanya muncul kemudian menghilang”
Meminjam ajaran suku Indian di Amerika, di
dalam diri kita ada dua serigala baik dan buruk
yang bertempur setiap hari. Dan yang menang
adalah yang diberi makan setiap hari. Dengan
pendekatan tersenyum pada benih-benih
kekerasan di dalam diri, tidak bereaksi dalam
ucapan dan tindakan, seseorang sedang tidak
memberi makan pada serigala buruk yang ada di
dalam.
Dalam bahasa meditasi: “sadari pikiran sebagai
pikiran, bukan sebagai kebenaran. Sadari
perasaan sebagai perasaan, bukan sebagai diri
Anda. Demikianlah cara meditasi menyembuhkan
banyak jiwa”. Ia yang tekun berlatih
meditasi seperti ini, suatu hari akan mengalami
kesembuhan. Dan tidak perlu diseret oleh hawa
panas kehidupan yang hadir di mana-mana.
Di tingkat kesempurnaan lain lagi, pendekatan
selective watering tidak diperlukan. Yang diperlukan
adalah ketekunan untuk menyaksikan tanpa
memilih (choiceless awareness). Setiap kejadian
di luar atau perasaan di dalam, keduanya mirip
dengan pecahan salju yang jatuh di danau.
Menimbulkan riak sebentar, kemudian hilang.
Seperti itulah sifat alami kehidupan. Semua
ada hukumnya. Pohon rindang mengundang
datangnya burung-burung. Bunga-bunga mekar
mengundang datangnya kupu-kupu. Dan seburuk
atau seindah apa pun keseharian, semuanya
muncul kemudian menghilang. Ia sesederhana
pecahan salju yang jatuh ke danau.
Setelah menyatu dengan keseharian
meditatif seperti ini, kehidupan kemudian
bertransformasi menjadi nyanyian harmoni. Ini
90
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
yang memungkinkan seseorang menemukan
keindahan sesungguhnya yang ada di dalam.
Ini juga yang disebut sebagai kehidupan sebagai
ciuman kedamaian.
91
Ciuman Kedamaian
92
Apa rahasia di balik pernikahan yang berumur
panjang?. Itu pertanyaan banyak sekali generasi
muda yang ingin pernikahannya awet. Ia yang
sudah menikah dengan pasangan yang sama
lebih dari seperempat abad mengerti, pernikahan
adalah leburnya dua tubuh ke dalam sebuah jiwa
yang indah.
Akan tetapi, proses leburnya dua tubuh menjadi
satu jiwa yang indah ini berjalan lama, panjang,
Taria n K edamaia n
”Pernikahan bukanlah
perjumpaan mur dan
baut yang sekali ketemu
langsung pas selamalamanya.
Pernikahan adalah
perjuangan tanpa henti
untuk terus menerus saling
mencintai”
93
banyak cobaan, sekaligus rumit dan sulit.
Pernikahan bukanlah perjumpaan mur dan baut
yang sekali ketemu langsung pas selama-lamanya.
Pernikahan adalah perjuangan tanpa henti untuk
terus menerus saling mencintai.
Bila disederhanakan, pertumbuhan
pernikahan
berjalan seperti ini.
Awalnya, semua pasangan
tertarik pada lawan
jenisnya karena halhal
luar seperti bentuk
muka, postur tubuh, cara
bicara, kesamaan hobi, kemiripan pendidikan.
Ketertarikan karena hal-hal luar ini biasanya
tidak bertahan lama, bahkan rawan mengundang
konflik. Ia mirip dg kulit buah yang tidak selalu
mencerminkan isi di dalamnya.
Ia yang bisa melewati konflik ini di awal, kemudian
tertarik dengan pasangan bukan karena hal-hal
luar, melainkan karena hal-hal yang ada di dalam.
Kesabaran, toleransi, kemampuan memaafkan,
pelayanan, penyayang pada keluarga dan anakanak
adalah sebagian kualitas di dalam yang bisa
membuat pernikahan bertahan lama.
”Kegagalan untuk
secara bergantian
merendah dan
mengalah, itu
yang membuat
banyak keluarga
bubar”
94
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Godaan terberat di tingkat ini adalah ego dan
keakuan. Ia biasanya hadir pada orang-orang yang
punya kelebihan seperti kepintaran, kekayaan,
keterkenalan. Kegagalan untuk secara bergantian
merendah dan mengalah, itu yang membuat
banyak keluarga bubar. Lagi-lagi sebab utamanya
adalah ego.
”Begitu seseorang bertumbuh jauh di lembaga
pernikahan, ia tidak saja bisa menemukan
belahan jiwa, lebih dari itu ia juga bisa
menemukan rahasia tentang siapa dirinya
yang sesungguhnya”
Tarian Kedamaian
95
Setiap keluarga yang bertahan lama selalu
ditandai oleh mengalahnya salah satu pihak di
sebuah waktu, kemudian mengalahnya pihak
lain di waktu lain. Ringkasnya, mengalah secara
bergantian. Tanpa keikhlasan untuk mengalah
dan merendah, keluarga mana pun pasti bubar.
Setelah diamplas dan dihaluskan habis-habisan
oleh ketekunan untuk merendah dan mengalah,
baru sebuah pasangan pernikahan bertumbuh ke
tingkatan ke tiga. Jika tingkatan pertama seseorang
tertarik dengan hal-hal luar, tingkatan kedua
tertarik dengan hal-hal di dalam, di tingkatan
ketiga seseorang mulai melihat pasangannya
sebagai belahan jiwa yang sesungguhnya.
Di tingkatan ketiga ini, apa yang pernah
diwariskan Rumi menjadi sebuah kebenaran
yang dialami serta hadir di depan mata. Rumi
pernah berpesan: “apa yang Anda cintai dalam
waktu lama menyimpan rahasia tentang siapa
diri Anda”.
Dengan kata lain, begitu seseorang bertumbuh
jauh di lembaga pernikahan, ia tidak saja bisa
menemukan belahan jiwa, lebih dari itu ia juga
bisa menemukan rahasia tentang siapa dirinya
yang sesungguhnya. Seorang sahabat yang sudah
37 tahun bersama istrinya bercerita kalau bagian
terindah dari pasangannya adalah kelembutan.
Dengan kata lain, kelembutan adalah bagian dari
jiwa dia yang mesti disempurnakan di hidup ini.
Seorang sahabat lain yang sudah hampir empat
puluh tahun hidup bersama pasangannya
membuka rahasia, ia menemukan rahasia tentang
dirinya di balik nama pasangannya. Di puncak
semua ini, setiap jiwa yang bertumbuh jauh
di lembaga pernikahan, menemukan belahan
jiwa, menemukan rahasia tentang siapa dirinya,
kemudian menemukan ternyata kehidupan
adalah tarian kedamaian.
96
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
“Bila tidak melaksanakan vegetarian, apakah
meditasinya akan terganggu?”, demikian seorang
anak muda bertanya. Tidak makan daging tentu
saja baik. Terutama karena mengurangi rasa
bersalah yang timbul di dalam hati. Tapi yang
lebih baik lagi adalah vegetarian di dalam pikiran
(baca: pikiran yang tidak menghakimi).
Terlalu banyak sahabat yang mulutnya vegetarian,
tapi pikirannya tidak vegetarian. Sebagai
akibatnya, perjalanan meditasinya penuh dengan
Senyuman Paling Indah
“Orang biasa tersenyum
dengan bibirnya. Orang
bijaksana tersenyum
melalui cintanya”
97
halangan. Ini yang dialami oleh dua orang murid
zen yang meditasinya sulit bertumbuh.
Suatu hari dua murid ini melihat bendera sedang
bergerak. Yang pertama menyebutkan kalau
yang bergerak adalah benderanya. Yang kedua
menyimpulkan kalau yang bergerak adalah
anginnya. Maka ramelah perdebatan diantara
mereka berdua. Bendera-angin, angin-bendera,
dst.
Di tengah perdebatan
yang memanas, tibatiba
Guru mereka
datang. Tatkala
ditanya yang benar
yang mana, Gurunya
kemudian menjawab:
“yang bergerak adalah pikiran kalian”. Inilah ciri
pikiran yang tidak vegetarian, selalu bergerak
lengkap dengan dialog dan perdebatan di dalam.
Ujungnya mudah ditebak, kedamaian menjauh.
Berbeda dengan perguruan tinggi di mana logika
yang kuat diberi nilai tinggi, di jalan meditasi
logika yang terlalu kuat adalah serangkaian
penghalang yang mengkhawatirkan. Dalam
bahasa yang indah: “logika adalah tongkat bagi
“Logika adalah
tongkat bagi jiwa-jiwa
yang pincang, serta
beban berat bagi
jiwa-jiwa yang sudah
terbang”
98
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
jiwa-jiwa yang pincang, serta beban berat bagi
jiwa-jiwa yang sudah terbang”.
Itu sebabnya meditasi tekun sekali memberitahu
untuk melewati logika, terutama dengan cara
menyaksikan. “Perhatikan pikiran sebagai pikiran,
bukan sebagai kebenaran, begitulah cara meditasi
membebaskan banyak sekali jiwa”, demikian
sering terdengar di sesi-sesi meditasi.
Tidak saja logika dilampaui, rasa juga dilampaui.
Rasa sedih dilewati, rasa senang juga dilewati.
Sampai suatu hari mengalami, semuanya hanya
gelombang-gelombang di permukaan. Dan
meditasi tidak menyarankan Anda menjadi
gelombang, melainkan kembali ke rumah abadi
bernama samudra.
”Diantara semua senyuman, yang terindah
adalah keheningan yang melahirkan cinta”
Senyuman Paling Indah
99
Di rumah abadi bernama samudra inilah
kemudian seseorang bisa melihat secara jernih dan
bersih perjalanan dari tubuh personal ke tubuh
interpersonal, kemudian istirahat indah di tubuh
kosmik. Di tubuh personal, seseorang mengira
tubuh fisiklah diri mereka. Di tubuh interpersonal,
seseorang rindu pengakuan, kebersamaan.
Dan hanya di tubuh kosmik (baca: alam dan
kehidupan) kemudian jiwa bisa melampaui
logika dan rasa. Kalau logika adalah tongkat bagi
jiwa-jiwa yang pincang, rasa adalah perahu bagi
jiwa-jiwa yang belum pulang. Keduanya hanya
kendaraan-kendaraan sementara.
Dan sesampai di rumah (home), kehidupan berubah
wajah menjadi serangkaian senyuman. Masa lalu
membawa senyuman, masa depan menjanjikan
senyuman, masa kini penuh senyuman. Diantara
semua senyuman, yang terindah adalah
keheningan yang melahirkan cinta.
100
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Suatu hari ada orang kaya dengan empat istri
yang siap-siap meninggal karena umur tua. Tentu
saja yang pertama kali dipanggil adalah istri ke
empat. Belum sempat mengungkapkan keinginan
agar istrinya mau menemani di jalan kematian,
istri ke empat sudah pergi sambil membanting
pintu.
Dengan sedih orang kaya ini memanggil istri
ketiga. Begitu selesai bertanya apakah istrinya
mau ikut mati, wanita ini langsung berucap:
Cinta Membawa
K edamaia n
“Bumi menghormat dengan
gempa kecil, langit
menghormat melalui
pelangi. Itulah cara alam
menghormat pada
wafatnya jiwa-jiwa
bercahaya”
101
“maaf, saya hanya bisa menemani kanda
sampai di sini saja”. Kendati hatinya tambah
pedih, orang kaya ini memanggil istri kedua.
Istri ini jawabannya lebih sopan: “saya bisa
menemani, cuman hanya sampai di kuburan”.
Sehingga tidak ada
pilihan lain terkecuali
memanggil istri
pertama yang tua,
renta, berambut putih,
serta tidak pernah
mendapat perhatian.
Anehnya, saat ditanya
kesediaannya menemani ke alam kematian,
wanita keriput ini berbisik lembut di telinga
suaminya: “saya akan menemani kanda ke mana
pun dan sampai kapan pun”.
Cerita ilustratif ini adalah cerita banyak manusia
di depan kematian. Istri ke empat yang paling
menarik dan atraktif bagi orang kebanyakan
adalah harta dan tahta. Jangankan setelah tua dan
sakit, bahkan tubuh masih segar bugar pun, tahta
dan harta digoyang banyak orang.
Istri kedua yang hanya bisa mengantar sampai
waktu kematian adalah tubuh fisik. Begitu
“Satu-satunya
kekayaan yang
dibawa ke rumah
kematian adalah
kekayaan yang
disimpan di dalam
hati”
102
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
seseorang mati, tubuh fisik langsung mengucapkan
selamat tinggal. Istri ketiga yang menghantar
hanya sampai di kuburan adalah keluarga dan
kerabat dekat.
Tentu timbul pertanyaan, siapa istri pertama yang
demikian setia menemani setelah waktu kematian,
kendati ia telah lama tidak diperhatikan. Dia
tidak lain adalah praktik spiritual mendalam.
Itulah satu-satunya yang dibawa jiwa setelah
kematian. Sedihnya, terlalu banyak manusia di
zaman ini meninggal tanpa bekal praktik spiritual
mendalam. Sebagai hasilnya, perjalanan jiwa
menjadi sangat menyedihkan.
“Tubuh fisik seorang Guru memang akan
wafat, tapi tubuh cintanya akan tetap di sini”
Cinta Membawa Kedamaian
103
Di dunia spiritual mendalam dikenal luas
pendapat, kualitas spiritual seseorang terlihat
terang saat kematian. Dalam pengalaman sejumlah
Guru tingkat tinggi, alam bahkan melakukan
penghormatan. Langit menghormat dengan
pelangi, bumi menghormat dengan gempa kecil.
Ramakrisna adalah seorang Guru yang
meninggalnya indah. Saat beliau meninggal di
umur muda, istrinya Sharadadevi tidak menangis,
bahkan tidak ikut pergi ke tempat kremasi. Tatkala
ditanya kenapa, wanita lembut ini menjawab:
“tubuh fisik Ramakrisna memang wafat, tapi cinta
Ramakrisna akan tetap hidup di hati saya”.
Sejak saat itu Sharadadevi tidak pernah berhenti
menyiapkan sarapan, makan siang, handuk serta
persiapan sehari-hari pada suaminya yang sudah
dikremasi. Bahkan tempat tidur suaminya yang
sudah kosong pun, tetap ditutup kain kelambu
agar tidak dimasuki nyamuk.
Anehnya, tatkala Sharadadevi mau meninggal
karena usia tua , ia malah menangis: “nanti siapa
yang menyiapkan makanannya Ramakrisna?”.
Inilah praktik spiritual mendalam. Di depan
kematian seseorang hanya melihat cahaya cinta
yang menawan. Sebagai akibatnya, perjalanan
jiwa kemudian akan penuh dengan kedamaian.
104
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Di dunia pengambilan keputusan, ada sebuah
faktor yang kelihatannya kecil tapi berpengaruh
besar terhadap aliran kehidupan kemudian,
faktor itu bernama waktu. Bila waktunya salah,
setepat apa pun keputusannya, kehidupan bisa
bubar. Jika waktunya tepat, sesalah apa pun
keputusannya, kemungkinan selamatnya tinggi.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana seseorang
tahu kalau waktunya tepat atau tidak? Belajar dari
Bercengkrama Denga n
K edamaia n
”Dan kapan saja di dalam
terasa tenang, damai,
bebas dari ketakutan,
itulah waktu paling
tepat untuk mengambil
keputusan penting dalam
kehidupan”
105
perjalanan spiritual samurai tersohor Miyamoto
Musashi, di dalam diri manusia penuh dengan
tanda-tanda yang bisa dibaca. Sedihnya, sangat
sedikit ada manusia di zaman ini yang membaca
tanda-tanda di dalam.
Dan kapan saja di
dalam terasa tenang,
damai, bebas dari
ketakutan, itulah
waktu paling tepat
untuk mengambil
keputusan penting
dalam kehidupan.
Sebagaimana dialami banyak penekun spiritual
tingkat tinggi, begitu keputusan diambil dalam
ketenangan sempurna, berikutnya banyak hal-hal
yang di luar dugaan muncul sebagai kondisi yang
mendukung.
Suatu hari Mahatma Gandhi sudah siap memimpin
demonstrasi besar berjumlah ribuan
orang untuk memprotes penjajah Inggris soal
garam. Tapi begitu siap berangkat demonstrasi,
Gandhiji melihat ada kemarahan di dalam
dirinya. Oleh karena itu, beliau memilih meditasi
dibandingkan demonstrasi.
“Begitu keputusan
diambil dalam
ketenangan
sempurna, banyak hal
di luar dugaan yang
muncul sebagai
kekuatan pendukung”
106
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Sementara ribuan pendukungnya sudah
siap mendukung demonstrasi di luar, pria
kurus sekaligus sederhana ini duduk hening
dalam meditasi, memberi jarak yang sama
pada semua emosi yang datang, tersenyum
pada semua berkah kekinian yang datang.
Dalam bahasa meditasi, sadari tubuh sebagai
tubuh bukan sebagai diri Anda. Sadari perasaan
sebagai perasaan bukan sebagai diri Anda. Sadari
pikiran sebagai pikiran, bukan sebagai diri Anda.
Sadari obyek pikiran sebagai obyek pikiran, bukan
sebagai diri Anda. Ini kerap disebut sebagai empat
tiang kesadaran.
”Apa pun berkah kekiniannya, ingat selalu
menerima, mengalir dan tersenyum. Terutama
karena semua gerakan kehidupan adalah tarian
kesempurnaan yang sama”
Bercengkrama Dengan Kedamaian
107
Tatkala Mahatma Gandhi yakin dirinya tenang,
seimbang, bebas dari kemarahan, di sana beliau
langsung turun memimpin demonstrasi. Dan
sejarah sudah mencatat, bahkan tentara terkuat
di dunia saat itu (baca: penjajah Inggris) harus
angkat kaki dari India.
Pelajarannya sederhana, ketenangan dan
kedamaian serupa alamatnya jiwa di dalam.
Begitu jiwa berumah damai di dalam, banyak hal
di luar dugaan bisa muncul untuk mendukung
perjalanan kehidupan kemudian. Sayangnya, di
zaman ini banyak jiwa yang bernasib mirip dengan
anak-anak tersesat yang tidak tahu rumahnya di
mana.
Sebagai akibatnya, di rumah salah, di kantor
penuh musibah. Tidak kebayang bagaimana wajah
keputusan orang-orang seperti ini. Itu sebabnya,
sangat-sangat dianjurkan kepada banyak sahabat
untuk bersentuhan dengan kedamaian di dalam.
Dalam bahasa sederhana namun mendalam,
apa pun berkah kekiniannya, ingat selalu
menerima, mengalir dan tersenyum. Terutama
karena semua gerakan kehidupan adalah tarian
kesempurnaan yang sama. Inilah yang disebut
dengan bercengkrama dengan kedamaian. Di titik
seperti ini, pengambilan keputusan jadi mudah
dan indah.
108
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Salah satu ajaran tingkat tinggi yang pernah lahir
di alam ini bernama Tantra. Sebagian ajaran Tantra
memang bersifat rahasia. Tapi bila semuanya
dirahasiakan, suatu hari ajaran ini akan punah.
Untuk itulah, sejumlah Guru seperti Osho berani
membuka rahasia-rahasia Tantra.
Jika Buddha Tantra lebih dekat dengan jalan
jhnana (pengetahuan) serta puncaknya bernama
keheningan, Shiva Tantra lebih dekat dengan
jalan bakti (devotion) serta puncaknya bernama
Jiwa Y a ng Mekar
“Ia yang memandang
kehidupan dengan mata
kelembutan akan
menemukan kelembutan
di mana-mana”
109
kebersatuan. Dua-duanya bersifat saling
melengkapi.
Itu sebabnya Shiva Tantra turun dari Shivaji
kepada permaisurinya. Implisit dalam kisah
ini berarti, ajaran ini hanya boleh diturunkan
kepada murid-murid dengan bakti yang
sangat dalam. Hanya dengan bakti yang
mendalam maka kebersatuan bisa dicapai.
Perintah komplit
Shiva Tantra berjumlah
112 bisa
selengkapnya dibaca
dalam maha karya
Osho yang berjudul
The Book of Secret.
Dan tidak semua penafsiran Osho layak ditelan
mentah-mentah. Terutama karena Osho mengajar
dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda
dengan kita.
Dalam tulisan ringkas ini akan dicoba menafsirkan
tiga perintah Shiva Tantra yang cocok dengan
konteks ruang dan waktu kita. Perintah pertama:
“sentuh mata secara lembut, selembut bulu ayam”.
Penafsirannya, hati-hati dengan cara memandang.
“Diri sejati mirip langit
biru. Semuanya
dibiarkan lewat seperti
awan-awan. Diri sejati
istirahat dalam
ketidakberhinggaan”
110
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Duka-suka, salah-benar, neraka-surga semua
berawal dari cara memandang.
Yang disarankan, belajar memandang kehidupan
dengan mata kelembutan. Ia yang memandang
kehidupan dengan mata kelembutan sedang
berjalan di jalan kedamaian. Perintah kedua:
“lihat langit melampaui awan-awan”. Kesedihankesenangan,
cacian-pujian, gagal-sukses semuanya
awan-awan yang tidak kekal. Dan Anda bukan
awan-awan tersebut.
Jiwa Yang Mekar
111
“Hanya ia yg mengerti kegelapan yang bisa
bersentuhan dengan akarnya jiwa”
Diri sejati mirip dengan langit biru. Apa pun
wajah awannya, semuanya disaksikan dengan
senyuman yang sama. Itu sebabnya, meditasi
mendalam selalu menyarankan untuk menjadi
saksi terhadap semua pengalaman kekinian.
Perintah ketiga: “akar selalu bertumbuh di tempat
gelap”. Penafsirannya, siapa saja yang mau
mengerti akarnya jiwa disarankan memahami
kegelapan. Simpan di dalam hati, kegelapan
bukan musuhnya cahaya. Kegelapan adalah
kekuatan yang membuat cahaya memancar lebih
terang. Lebih dari itu, kalau semua orang menjauh
dari kegelapan, lantas siapa yang membimbing
mereka berevolusi menjadi cahaya?
Digabung menjadi satu, tiga perintah Shiva
Tantra ini bisa menjadi bekal mendalam di jalan
pencerahan. Pandang kehidupan secara lembut,
lampaui awan-awan pikiran dan perasan,
kemudian ingat selalu bahwa semuanya adalah
cahaya. Bahkan kegelapan pun sedang berevolusi
menjadi cahaya.
Ia yang membadankan tiga perintah ini dalamdalam,
jiwanya sedang berevolusi menjadi bunga
indah. Jika bunga biasa cepat layu, bunga jiwa
yang tercerahkan akan tetap mekar di sini untuk
berbagi aroma cinta.
112
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Pintu Belakang
Berjumpa Ke-u-Tuhan
114
Tetua Bali sering bercerita tentang menyatunya
alam kecil (bhuwana alit) dengan alam besar
(bhuwana agung). Alam besar tentu saja terlalu
rumit. Di awal abad ke 20, dunia fisika bersama
Newton dkk pernah menduga kalau teka-teki
tentang alam semesta akan terjawab semuanya
tidak lama lagi. Akan tetapi, tidak lama kemudian
tatkala lahir pendekatan quantum mechanics
(mekanika kuantum), optimisme ini bubar. Alam
besar masih menyisakan teka-teki besar yang
tidak bisa dijawab.
Berjumpa K e-u-Tuha n
“Melalui pendekatan
terima, mengalir,
senyum, seseorang tidak
saja mendamaikan diri,
tapi juga membawa jiwa
memasuki gerbang
ke-u-Tuhan”
115
Oleh karena itu, mari melihat alam kecil yang
kerap disebut diri kita sendiri. Bagian dari diri kita
yang paling mudah untuk didiskusikan adalah
tubuh. Di Tantra sudah banyak yang melihat dan
mengalami, tubuh manusia menyimpan banyak
sekali rahasia indah tentang perjalanan jiwa. Coba
perhatikan bagian atas dan bagian bawah tubuh
manusia.
Di bagian atas
tubuh, ada lubang
bernama mulut
dari mana manusia
m e m a s u k k a n
hal-hal yang men
y e n a n g k a n .
Sedangkan di bagian bawah, ada lubang yakni
(maaf) dubur. Sebuah tempat di mana manusia
membuang kekotoran. Ringkasnya, alam besar
dan alam kecil serupa. Di satu bagian berisi hal-hal
yang menyenangkan. Di bagian lain berisi hal-hal
yang tidak menyenangkan. Berdoa tidak berdoa,
meditasi tidak meditasi, demikianlah hukumnya.
Makanya di jalan jhnana (pengetahuan), ada yang
menyebut konsep Tuhan sebagai hukum (God as a
law). Inilah salah satu hukumnya.
116
“Menggambar wajah
Tuhan yang pemarah
tidak saja menyuburkan
kaum ateis, tapi juga
membuat generasi
muda menjauh”
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Jangankan saat tidak lahir Avatara, Buddha dan
Nabi, bahkan saat lahir Avatara pun orang-orang
menjengkelkan lahir. Di zamannya Sang Rama,
penggodanya bernama Rahwana. Di zamannya
Shri Krisna, penggodanya bernama Duryodana,
di zamannya GA Buddha penggodanya bernama
Dewadatta. Hal yang sama terjadi saat Nabi lain
lahir.
Ringkasnya, mirip dengan aliran malam dan siang,
alam kecil dan alam besar keduanya mengalir.
Makanan enak di hari ini, sebagian jadi kotoran
besok pagi. Pujian orang di hari tertentu bisa jadi
sumber makian di hari lain. Anak yang penurut
di sebuah tahun, bisa jadi anak pembangkang di
tahun yang lain. Begitulah hukumnya.
Ciri dominan jiwa-jiwa menderita adalah serakah
memilih yang baik di atas yang buruk, memegang
yang benar di atas yang salah, menggenggam
kesucian menendang kekotoran. Sebagai
akibatnya, energi di dalam jadi gagal mengalir. Ia
sesederhana manusia yang makan banyak di hari
ini, tapi di hari berikutnya tidak buang air besar.
Inilah awal banyak sekali penyakit dan rasa sakit.
Kegantengan suami diterima, kemarahannya
ditolak habis-habisan. Kecantikan istri didekap,
Berjumpa Ke-u-Tuhan
117
118
cerewetnya diancam cerai. Kepintaran anak
dibanggakan, kenakalannya disembunyikan.
Banyak orang hanya mau kaya, tapi tidak mau
konsekuensi negatif yang muncul sebagai akibat
berlimpahnya kekayaan. Sekali lagi, inilah awal
banyak penyakit dan rasa sakit. Sekaligus inilah
bentuk energi yang gagal mengalir.
Sebagaimana sudah diulas secara berulang-ulang
di buku sederhana ini dari pintu depan, pada
kelompok tulisan yang berjudul tirtha kesembuhan
“Upacaranya bisa apa saja, tempat sucinya
bisa di mana saja, tapi ingat melakukannya
dalam spirit ke-u-Tuhan”
maupun tirtha kedamaian, meditasi tidak pernah
lelah mengundang para pencari spiritual untuk
selalu kembali ke rumus sederhana tapi mendasar
ini yakni: “terima, mengalir, senyum”.
Melalui pendekatan terima, mengalir, senyum,
seseorang tidak saja membebaskan penghalang
energi di dalam untuk mengalir kembali, tetapi
juga membuat jiwa memasuki gerbang ke-u-
Tuhan. Di zaman dulu sekali, saat zaman masih
sangat kacau, liar dan barbar, Tuhan sering
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
digambarkan dengan wajah yang marah lengkap
dengan dosa dan nerakanya.
Di zaman ini, menggambar wajah Tuhan yang
pemarah tidak saja menyuburkan tumbuhnya
kelompok ateis, tetapi juga membuat anak-anak
muda menjauh dari sumber mata air jernih
bernama agama dan spiritualitas. Itu sebabnya,
sejumlah Guru spiritual dengan pencapaian
spiritual mengagumkan di zaman ini senang
sekali berbagi cerita tentang ke-u-Tuhan.
Dalam bahasa yang ringkas namun padat, orang
jahat lahir untuk membuat orang baik terlihat
lebih baik, kesedihan adalah kekuatan di alam
yang membuat kebahagiaan terasa jauh lebih
dalam, dukacita adalah tangisan yang membuat
nyanyian sukacita jauh lebih bercahaya. Itulah
yang disebut dengan ke-u-Tuhan.
Sebuah kekuatan yang membuat energi di dalam
mengalir kembali. Begitu energi-energi di dalam
mengalir kembali secara alami, di sana kesembuhan
dan kedamaian akan hadir secara asri. Pada saat
yang sama, banyak kecelakaan kehidupan seperti
bunuh diri, penyakit menakutkan seperti HIV
bisa dihindari dan dikurangi. Sejujurnya, inilah
bunga indah meditasi.
Berjumpa Ke-u-Tuhan
119
Tempat sucinya bisa di mana saja, cara berdoanya
bisa seperti apa saja, upacaranya bisa menggunakan
tradisi apa saja, saran buku sederhana ini
cuma satu: “lakukan semuanya dengan spirit
ke-u-Tuhan”. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa
yang indah.
120
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Daftar Bacaan
Bagi setiap sahabat yang tertarik mendalami
lebih dalam lagi topik kesembuhan, kedamaian,
ke-u-Tuhan, berikut sejumlah daftar bacaan yang
disarankan :
1. Yang berkaitan dengan kesembuhan:
Brandom Bays: “The Journey, a practical guide to
healing your life and settimg yourself free”
Daniel Goleman: “Emotional Intelligence”
Kari Joys, MS: “Choosing Light Heartedness: a 33
day journey to overcome anxiety, depression
and dysfuncfional family”
Louise L. Hay: “You Can Heal Your Life”
Osho: “From Medication To Meditation”
Rick Hanson Ph.D: “The practical Neuroscience
of Buddha’s brain, happiness, love, wisdom”
Thomas Bien, Ph.D: “Mindful Therapy: a guide
for therapists and helping professionals”
Thomas Bien Ph.D: “Mindful Recovery: a
spiritual path to healing from addiction”
121
Tulku Thondup: “The healing power of mind:
simple meditation exercices for health, wellbeing,
and enlightenment “
Tulku Thondup: “Boundless healing, meditation
exercices to enlighten the mind and heal the
body”
2. Yang berkaitan dengan kedamaian:
Abbot Zenkei Shibayama: “A flower does not
talk”
HH Dalai Lama: “Compassionate Life”
HH Dalai Lama: “Healing Anger”
Thich Nhat Hanh: “Creating True Peace, ending
violence in yourself, your family, your
community, and the world”
Thich Nhat Hanh: Peace is every step, the path of
mindfulness in everyday life
Thomas Bien Ph.D: “Finding The Center Within:
the healing way of mindfulness meditation”
3. Yang berkaitan dengan ke-u-Tuhan:
David Bohm: “Health and the implicate order”
Fritjof Capra: “The Tao of Physics”
J. Krishnamurti : “Freedom From The Known”
J. Krishnamurti: “The Impossible Question”
Joseph Campbell: “The power of Myth”
122
Menemukan Tirtha Di Dalam Diri
Lex Hixon: “Coming Home, the experience of
enlightenment in sacred traditions”
Osho: “The Book of Secrets”
Radmila Moacanin: “The essence of Jung’s
psychology and Tibetan Buddhism”
Reginald A. Ray, Ph.D: “Touching
Enlightenment, Finding realization in the
body”
123
Daftar Bacaan
Bagi para sahabat yang terhubung di internet,
berikut daftar situs (akun) resmi Bapak Gede
Prama.
1. Situs (akun) yang berbahasa Inggris
Situs: www.bellofpeace.org
Blog: www.gedeprama11.blogspot.com
Facebook: Home of Compassion
by Gede Prama
Twitter: @gede_prama
2. Situs (akun) yang berbahasa Indonesia
Blog: new.gedeprama.blogdetik.com
Facebook: Gede Prama’s Compassion
3. Bagi para sahabat yang tertarik belajar
meditasi, silahkan kunjungi www.bellofpeace.
org (bahasa Inggris), atau new.gedeprama.
blogdetik.com (bahasa Indonesia), kemudian
klik meditation schedule (Inggris) atau jadwal
meditasi (bahasa). Di sana ada sejumlah pelayan
yang bisa membantu Anda soal kapan, di mana
belajar meditasi dibimbing oleh Guru.
124
ALAMAT SITUS ATAU AKUN RESMI
BAPAK GEDE PRAMA

Compassion

Menuju Kesembuhan, Kedamaian, Ke-u-Tuhan
Menemukan Tirtha
Di Dalam Diri
oleh: Gede Prama
Cetakan I, Oktober 2015
12,5 x 18,5 cm, viii + 124 hal
Penyunting: compassion
Layout: compassion
Desain Cover: TB. Bacherman
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh
isi buku ini tanpa izin tertulis dari penyusun.

 

Admin MBI
Admin MBI
Forum pertemuan gagasan terbuka bagi para pemikir terkemuka Indonesia. Email: [email protected]