Kemuarian sebagai Kekuatan Karakter Bangsa

Kemuarian sebagai Kekuatan Karakter Bangsa

Anshori Djausal

(Lampung)

CATATAN:

“Kehidupan sosial politik kita belakangan  sudah terhanyut jauh oleh hiruk-pikuk dengan nilai-nilai atau norma-norma yang asing, demokrasi yang kebablasan, hedonisme, konsumerisme,  perilaku yang menghalalkan segala cara, hilangnya kepercayaan satu sama lain, mengabaikan etika yang lazim, malahan ada kekhawatiran dengan rasa kebangsaan yang memudar, misalnya saja menipisnya patriotisme rasa cinta tanah air.

Akibatnya, banyak yang tersesat bahkan tak sedikit yang akhirnya kehilangan jati dirinya, jauh dari norma-norma yang sudah teruji mendamaikan kehidupan seseorang dan masyarakat. Nilai-nilai yang telah dimiliki bangsa ini sebelumnya yang merupakan kearifan lokal pada masyarakat adat.

Korupsi dan kejahatan yang merajalela terjadi pada berbagai tingkatan indikator tercerabutnya masyarakat dari nilai2 budayanya. Yaitu nilai budaya menjaga kehormatan, budaya malu berbuat yang buruk dan nilai kebaikan lainnya yang menjadi dasar perilaku seseorang dalam bermasyarakat.

Masyarakat adat Lampung memiliki warisan yang sangat berharga berupa kearifan lokal nilai-nilai atau norma2 bagi individu dan sosialnya. Nilai-nilai yang menjaga warga untuk berbuat buruk

Semua itu berawal dari sistem kekerabatan. Dimana, dalam.kekerabatan tidak hanya menunjukkan hubungan seseorang dengan kerabatnya , tetapi dibarengi dengan tugas fungsi dan tanggung jawab sebagai bagian dari kekerabatannya.”

Pengantar

Bagi masyarakat Lampung, keluarga dan kerabat sangat penting sebagai bagian dari pembentukan karakter atau perilaku seseorang dalam kehidupan sosialnya. Lewat penguatan sistem kekerabatan (muari) yang diwariskan secara turun-temurun, masyarakat Lampung dapat ikut menguatkan karakter bangsa.

Hubungan kekerabatan atau bermuari tersebut memiliki dampak penting dalam perilaku seseorang terhadap orang lainnya yang akhirnya membentuk karakter tersendiri bagi sistem sosial kemasyarakatan yang lebih luas.

Suatu keluarga tentu mempunyai karakter masing-masing yang terbentuk melalui proses sosialisasi di dalam keluarga itu sendiri, proses penyaluran budaya turun temurun kepada keturunan baru, maupun melalui nilai – nilai dan norma yang terdapat dalam keluarga dan budaya dari keluarga tersebut yang kemudian terbangun dalam kekerabatan yang lebih luas.

Dengan menjaga kelestarian sistem adat istiadat dari kearifan lokal masyarakat Lampung, selain untuk merawat nilai-nilai adat istiadat dan kearifan lokan itu sendiri, sekaligus membangun masyarakat Lampung yang berkarakter.

Kemuarian atau sekelik dalam masyarakat Lampung telah menunjukkan perannya dalam membangun nilai kerukunan dalam masyarakat Lampung yang telah beragam saat ini.

Hubungan antar suku, konflik antar kelompok, hubungan dengan pemerintah dapat diselesaikan melalui titei gemattei dalam adat yang telah menjadi acuan bersama untuk keselarasan dan pemecahan masalah sosial kemasyarakatan.

Piil Pasenggiri dengan empat pilarnya telah banyak dibahas dan telah menjadi acuan dalam memahami aspek budaya dalam masyarakat Lampung. Selanjutnya harus menjadi dasar utama dalam membangun karakter budaya dalam masyarakat.

Di bawah ini akan dibahas masing-masing cara pembentukan karakter dalam masyarakat Lampung.

Hubungan kekerabatan dalam masyarakat adat

Hubungan kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antara seseorang yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam antropologi, sistem kekerabatan termasuk keturunan dan pernikahan, sementara dalam biologi istilah ini termasuk keturunan dan perkawinan.

Hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosialperankategori, dan silsilah. Ikatan kekerabatan menciptakan kewajiban yang kuat di antara orang-orang terkait .

 Kekerabatan berasal dari kata kerabat yang artinya yang dekat (pertalian keluarga), sedarah sedaging, keluarga, sanak saudara, atau keturunan yang sama. Jadi, Kekerabatan merupakan hubungan kekeluargaan seseorang dengan orang lain yang mempunyai hubungan darah atau keturunan yang sama dalam satu keluarga.

Keluarga sangat berhubungan dengan pernikahan, karena proses pernikahan menghadirkan sebuah keluarga dan akan terus berkembang menjadi sebuah masyarakat tertentu.Kekerabatan dan keturunan merupakan hal yang sangat penting karena kekerabatan dan keturunan menjadi kunci penting jika sepasang pria dan wanita ingin menikah.

Sebelum menikah biasanya sering kali ditanyakan dari keturunan siapa, hal ini untuk memastikan bahwa seseorang yang hendak masuk ke keluarga harus diketahui asal-usul dan keturunannya agar seseorang yang masuk itu bukan dari keturunan yang sama yang berdasarkan norma yang berlaku di Indonesia.

Keluarga dan kekerabatan juga sangat erat kaitannya dengan kebudayaan karena kebudayaan yang ada sangat menentukan perilaku dari suatu keluarga dengan kekerabatan yang ada. Kebudayaan yang ada hampir selalu diturunkan kepada keturunan di dalam keluarga.

Sebagai pemegang peran penting bagi seseorang di dalamnya serta masyarakat yang dibentuknya, keluarga tentunya memiliki beberapa fungsi tertentu.  Duvall (1985) di dalam Mega (2006) mengungkapkan terdapat 6 fungsi keluarga, yaitu :

  1. Mengembangkan rasa kasih sayang
  2. Pemenuhan kebutuhan akan rasa aman dan penerimaan
  3. Menumbuhkan kepuasan
  4. Menjamin kontinuitas hubungan
  5. Memberikan kesempatan untuk bersosialisasi
  6. Menanamkan rasa tanggung jawab dan nilai kebenaran dan keburukan

 

Dalam keluarga dan kekerabatan selain kesempatan bersosialisasi juga tertanam Rasa tanggung jawab serta nilai nilai kebenaran dan keburukan sebagai dasar pembentukan karakter seseorang dalam masyarakatnya.

Kemuarian , Kekerabatan masyarakat adat Lampung

Suku-suku asli Lampung memperhitungkan garis keturunannya melalui kekerabatan Patrilineal. Kelompok kekerabatan ini didasarkan pada sistem kekerabatan masyarakat Lampung umumnya. Kekerabatan patrilineal yakni menghitung garis keturunan sealiran darah melalui satu ayah, satu kakek atau satu nenek moyang (laki-laki).

Biasanya anak lelaki tertua dari keturunan yang lebih tua dapat memimpin serta bertanggungjawab terhadap anggota kerabatnya. Perhatian mereka terhadap silsilah asalnya sampai lebih dari lima generasi ke atas dan garis hubungan kekerabatan menunjukkan kepada buai asalnya. Format kekerabatan ini bergaris sebelah sesuai dengan garis keturunan laki-laki yang menjadi dasar sebuah kerabat.

Sistem Kekerabatan Masyarakat Adat Lampung yang dimaksud disini adalah keluarga dekat / sanak saudara yang bertalian keluarga sedarah-sedaging. Kehidupan kekeluargaan ini dalam suku lampung Pepadun disebut Menyanak Warei, yaitu semua keluarga baik dari pihak ayah maupun  dari pihak ibu, baik karena hubungan darah maupun karena akibat dari perkawinan atau bertalian adatMewarei.

Setiap orang harus mengetahui siapa-siapa anggota kerabat pihak ayah dan pihak ibu, serta mengetahui bagaimana kedudukan dan tanggung jawabnya didalam kelompok kekerabatannya.

Lebih lanjut dapat dijelaskan, ada 3 (tiga) kelompok sistem  kekerabatan dalam masyarakat lampung pepadun ( Sabaruddin S A ), yaitu :

  1. Kelompok Kekeluargaan Yang  Bertalian Darah

Hubungan kekerabatan ini berlaku diantara punyimbang dengan para anggota kelompok keluarga warei, kelompok keluarga apak kemaman, kelompok warei dan kelompok anak. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

Kelompok Warei Yaitu terdiri dari saudara-saudara seayah-seibu atau saudara-saudara seayah lain ibu, ditarik menurut garis laki-laki keatas dan kesamping termasuk saudara-saudara perempuan yang belum menikah atau yang bersaudara datuk (kakek) menurut garis laki-laki.

Kelompok Apak Kemaman Terdiri dari semua saudara-saudara ayah (paman), baik yang sekandung maupun yang sedatuk atau bersaudara datuk (kakek) menurut garis laki-laki. Dalam hubungannya dengan Apak Kemaman, punyimbang berhak untuk meminta pendapat nasehat dan berkewajiban untuk mengurus dan memelihara apak kemaman. Baliknya apak kemaman berhak diurus dan berkewajiban untuk menasehati.

Kelompok Adek-Warei Terdiri dari semua laki-laki yang bersaudara dengan penyimbang baik yang telah berkeluarga maupun yang belum berkeluarga.

Kelompok Anak Yaitu yang terdiri dari anak-anak kandung. Kedudukan anak kandung adalah mewarisi dan menggantikan kedudukan orang tua atau ayah kandungnya.

  1. Kelompok Kekerabatan Yang Bertalian Perkawinan

Kelompok ini berlaku diantara penyimbang dan anggota kelompok, yaitu kelompok kelama, kelompok lebu, kelompok benulung dan termasuk pula kelompok kenubi serta ada pula kelompok persabaian, kelompok Mirul-Mengiyan dan maru serta lakau. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

Kelompok Kelama Yaitu saudara-saudara laki-laki dari pihak ibu dan keturunannya.

Kelompok Lebu Yaitu terdiri dari saudara-saudara laki-laki dari pihak ibunya ayah (nenek) dan keturunannya.

Kelompok Benulung Yaitu terdiri dari anak-anak saudara perempuan dari pihak ayah (bibi) dan keturunannya.

Kelompok Kenubi Yaitu terdiri anak-anak saudara-saudara dari pihak ibu bersaudara (sepupu dari pihak ibu) dan keturunannya.

Kelompok Pesabaian (sabai-besan) Yaitu kekerabatan yang terjadi karena adanya perkawinan yang dilakukan oleh anak-anak mereka.

Kelompok Mirul-Mengiyan, Maru, Dan Lakau Yaitu terdiri dari semua saudara-saudara perempuan yang telah bersuami (Mirul) dan para suaminya (Mengiyan) kemudian saudara-saudara dari Mirul dan Mengiyan tersebut yang merupakan ipar (Lakau) para Mirul bersaudara suami serta para mengiyan bersaudara istri disebut (Maru).

 

  1. Kelompok Kekerabatan Yang Bertalian Adat Mewarei

Timbulnya hubungan kekerabatan ini karena hal-hal tertentu yang tidak dapat dihindari berkaitan dengan adat seperti karena tidak mendapatkan keturunan/anak laki-laki atau tidak mempunyai Warei atau Saudara.

Kekerabatan seperti ini diantaranya adalah sebagai berikut:

Anak angkat Yaitu anak yang diangkat oleh penyimbang yang dilakukan dengan cara “Ngakuk Ragah” (mengambil anak laki-laki) baik dengan cara adopsi maupun dengan menikahkan dengan anak perempuan dari penyimbang tersebut.

Mewarei adat atau yang disebut pula dengan bersaudara orang luar. Syahnya mengambil anak laki-laki atau mengambil anak sebagai anak sendiri, dan bersaudara dengan orang luar harus diketahui oleh kerabat maupun masyarakat sebagai warga adat persekutuan, yaitu dengan dilakukan upacara adat dengan disaksikan oleh majelis perwakilan adat ataupun tidak. Kedudukan anak angkat adalah merupakan hasil suatu pengakuan dan pengesahan warga adat persekutuan, apabila bersetatus sebagai anak penyimbang maka ia akan mewarisi dan menggantikan kedudukan orang tua atau ayah angkatnya. Demikian pula dengan bersaudara angkat, kedudukannya didalam kekerabatannya yang baru berdasarkan setatus sebelumnya, apabila ia seorang penyimbang maka kedudukannya sama dengan orang yang mewarei atau mengangkat saudara.

(Sabaruddin S A. dalam andriyantomi.blogspot.com)

 

Kegiatan mewarei ini pada hakekatnya melalui beberapa tahapan, setelah terjadi suatu peristiwa yang didukung niat yang luhur dan kemampuan dari kedua belah pihak guna penyelesaian konflik yang terjadi atau penegasan status/posisi mereka dalam suatu tatanan masyarakat adat tertentu.

Disamping makna lain di atas kegiatan mewarei ini juga dimaksudkan agar anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut akan mempunyai kelamo atau benulung orang Lampung sehingga hubungan kekerabatan menjadi bertambah erat.

Selain itu yang bersangkutan akan menjadi bebas bergaul dalam masyarakat adatnya karena ia sudah berstatus sebagai warga Lampung.

Konsekwensi lain tentunya dengan peristiwa ini pihak yang bersangkutan sudah terkena cepalo ( orang) yang dianut oleh masyarakat adat yang bersangkutan.

SEKELIK-KEMUARIAN.  

Dalam Adat Lampung ada sistem kekerabatan, diungkapkan secara umum dalam hubungan “sekelik” atau “kemuarian”.

Sekelik kemuarian” menggambarkan hubungan kekerabatan  seseorang dengan ikatan kekerabatannya. Ikatan yang bersangkutan dengan kerabatnya secara umum dapat diungkapkan dengan sebutan “sekelik ekam”, My family, family saya, puwari saya.

Dari masing-masing hubungan kekerabatan tersebut mempunyai peran, fungsi, dan akibat sosial berupa kewajiban-kewajiban, serta kaidah-kaidah tertentu pada pihak-pihak yang bersangkutan.

Di lingkungan masyarakat adat Lampung anak dituntut tidak hanya hormat kepada ayah dan ibunya, tetapi anak juga wajib hormat kepada saudara-saudara ayah dan ibunya, kerabat garis keturunan ayah terutama ibunya. Kedudukan para paman dari sudara ibu merupakan pihak kelama atau kelamo yang stratanya lebih dihormati dibandingkan dengan paman pihak lain. Adapun keluarga atau saudara perempuan dari pihak ayah disebut benulung, sedangkan tugas benulung memiliki tempat tersendiri dalam setiap acara-acara adat, seperti menjadi pematu di setiap kegiatan adat.

Dalam sistem kekerabatan masyarakat adat Lampung, khususnya Lampung Pepadun Marga Sungkai Bungamayang, terdapat stratifikasi atau tingkatan kedudukan dalam keluarga, masing-masing memiliki kedudukan, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda dalam setiap kaitan kekerabatannya.

Dalam sistem kekerabatan tersebut juga diatur panggilan atau nama  terhadap seseorang yang disebut  juluk dan adek.

 Juluk adalah nama lain atau panggilan yang diberikan kepada setiap orang yang masih kecil atau belum menikah yang sifatnya juga bertingkat. Juluk adalah nama kecil panggilan adat Lampung biasanya pemberian dari kakek yang melekat terus sampai kemudian ia mendapat adek. Juluk berlaku dalam keluarga dan juga dalam kekerabatan yang lebih luas.

Adek adalah nama lain atau gelar yang diberikan kepada seseorang (orang Lampung) yang telah menikah yang sifatnya juga bertingkat. Proses pemberian gelarnya pun hampir sama yakni dilakukan dengan cara nyanang yaitu menabuh canang disaksikan tokoh-tokoh adat dan perwatin dalam rapat permusyawaratan adat. Adek tersebut didapat dan “diterangkan” melalui prosesi begawi mupadun adatatau minimal melalui begawi nguruk di way (begawi kecil dalam sistem hukum adat Lampung Pepadun, khususnya Lampung Marga Sungkai Bunga Mayang).

Adek gelar ini kemudian digunakan sebagai panggilan atau nama yang bersangkutan menggantikan juluk yang tidak lagi digunakan sebagai panggilan atau nama.

TUTOKH

Tata krama berhubungan dengan kaum kerabat maupun dengan anggota masyarakat lainnya  diungkapkan dengan sikap, bersantun maupun dengan menyebut nama panggilan/gelar seseorang. Saling hormat menghormati berdasarkan panggilan/gelar untuk menyebut nama merupakan tuntunan yang sudah menjadi kebiasaan.

Hal ini bukan hanya berlaku terhadap kerabat dekat saja tapi juga diperuntukkan bagi orang lain karena faktor usia/gelar yang di pakai.

Sapaan dalam memanggil seseorang adalah salah satu dari bentuk kesopanan, penghormatan, penghargaan, serta pengakuan kita terhadap kerabat.

Masyarakat suku Lampung memiliki istilah atau panggilan untuk menyapa yang dalam bahasa Lampung disebut tutokh atau tutur dalam kekerabatan Suku Lampung.Tutokh adalah tata cara memanggil atau menyapa antara anggota kerabat yang satu sama lain yang bersifat bertingkat/berkasta/memiliki stratifikasi..

Contoh tutokh orang Lampung seperti: kanjang, kunjung, kanjeng, anjeng, agen, regen, anjung, tuan, pun, puan, uwan, wan, wanda, kanda, pusat, gusti, kiyay, batin, tati, titah, itah, papahan, sumbahan, rajo, ajo, menak, minak, agungan, kagungan, baginda, ginda, junjun, junjunan, ahi, ahun, ahuya, susi, sus, ses, radin, adin, uda, udo, cikwo, yunda, dan sebagainya.

Tutokh tersebut sangat beraneka ragam karena masyarakat Lampung juga banyak menyerap bahasa panggilan dari berbagai macam suku bangsa dan bahasa termasuk panggilan uni, teteh, dan daing, oom, tante, ses.

 

Tutor atau Tutokh ini tidak semata menunjuk stratifikasi sosial, tetapi juga menunjukkan ikatan kekerabatan yang kuat dengan pembagian tugas dan fungsi masing asing individu secara vertikal dan horizontal dan dapat memperluas tanggung jawab dan fungsi ini diluar kekerabatan yang makin luas. Misalnya saja dalam suatu keluarga, karena neneknya dari pihak ayah berbeda marga dengan kakeknya, serta kakek dari pihak ibu juga berbeda marga maka berarti dia mempunyai lebeu dari dua marga yang berbeda. Begitupun saudara laki laki dari ibunya berbeda kampung atau marga, maka kelamonyaberasal dari kampung atau marga yang berbeda.

Maka hubungan lebu-kelamo ini memperluas fungsi dan tanggung jawab yang lebih luas mencakup hubungan antar marga dalam ungkapan “sekelik” atau kemuarian yang lebih luas.

Sehingga seorang individu dapat mempunyai hubungan sekelik yang kemudian mewujudkan kekerabatan yang menciptakan hubungan titei gemattey yang mengkaitkan antar marga, malahan antar suku.

Luasnya jejaring sekelik kemuarian ini adalah suatu bentuk kearifan lokal yang sukses untuk membangun kehidupan kekerabatan menjadi hubungan antar marga masyarakat Lampung yang luas termasuk hubungan antar suku yang melekat pada seorang individu Lampung.

Hubungan Kemuarian ini Ikut membangun hubungan yang harmonis dalam masyarakat Lampung yang lebih heterogen saat ini. Membangun suasana masyarakat yang “GUYUB RUKUN AYEM TENTREM”, masyarakat yang “ Gunom Ragom, Betik Sapon”. Kondisi masyarakat yang diidamkan

 

Lembaga Kepunyimbangan

Lembaga Kepemimpinan masyarakat adat Lampung disebut lembaga Kepunyimbangan. Lembaga kepunyimbangan untuk berwenang menciptakan norma sosial, norma hukum sebagai pedoman bagi warga masyarakat adat untuk berperilaku dalam pergaulan sesama anggota maupun dengan masyarakat lainnya.

Lembaga Kepunyimbangan ini pada hakekatnya menunjukkan tingkat kewenangan dan tanggung jawab seseorang dalam keluarga, kerabat dan masyarakat adatany, baik dalam suatu kebuayan, kelompok dan hubungan dengan masyarakat adat lainnya.

Lembaga Kepunyimbangan ini sesuai dengan kewenangan yang melekat padanya, dengan memperhatikan prinsip kebersamaan dalam kehidupan bermusyawarah untuk mendapatkan mufakat yang kemudian menjadikannya keputusan yang harus ditaati oleh seluruh warga masyarakatnya.

Keputusan musyawarah ini menciptakan dan menetapkan pala prilaku umum anggota masyarakat yang berbentuk norma yang berisikan kebolehan dan larangan (cepalo). Segala sesuatu keputusan berupa ketetapan/keputusan para punyimbang ini harus dilakukan dalam suatu rapat yang disebut perwatin adat, (musyawarah para punyimbang adat) sesuai dengan tingkatannya.

Punyimbang memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang cukup luas mengatur kehidupan dan penghidupan anggota kerabatnya baik yang berkenaan dengan sesama anggota masyarakatnyadan juga yang berkenaan dengan sumber daya lingkungan alam sekitarnya.

Secara sistematis tanggungjawab penyimbang dilaksanakan secara berjenjang yaitu masalah keluarga diselesaikan oleh keluarga dilaporkan kepada punyimbang sukunya, masalah yang menyangkut suku diselesaikan oleh para punyimbang suku dilaporkan kepada punyimbang kampung atau buwai yang ada di kampung yang bersangkutan. Tingkatan musyawarah itu dimulai dari musyawarah keluarga, suku dan kampung, pada akhirnya kebuwaian  dam marga.

Piil Pasenggiri sebagai pranata pembentukan karakter.

 

Piil Pesenggiri merupakan falsafah hidup Masyarakat Lampung menganut nilai moral tinggi yang didukung identitas pribadi melalui Juluk Adek, prilaku/sikap nemui nyimah, nengah nyappur, dan Sakai Sambayan. Falsafah hidup ini merupakan acuan masyarakat Lampung untuk selalu bersikap terbuka dan memiliki rasa solidaritas yang tinggi. baik dengan sesama kelompok maupun dengan masyarakat lainnya. (Abdul Syani, 2013)

Dampak lain dari falsafah hidup tersebut secara umum dapat senantiasa mendorong masyarakat Lampung menjadi lebih kritis dalam berencana penuh dengan pertimbangan dalam rangka usaha untuk tetap berjuang terus demi kemajuan.

ABDUL SYANI menjelaskan cukup rinci tentang Piil Pesenggiri sebagai tatanan moral yang merupakan pedoman bersikap dan berperilaku masyarakat adat Lampung dalam segala aktivitas hidupnya. Falsafah hidup orang Lampung sejak terbentuk dan tertatanya masyarakat adat adalah piil pesenggiri. Piil (fiil=arab) artinya perilaku, dan pesenggiri maksudnya bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, tahu hak dan kewajiban. Piil pesenggiri merupakan potensi sosial budaya daerah yang memiliki makna sebagai sumber motivasi agar setiap orang dinamis dalam usaha memperjuangkan nilai-nilai positif, hidup terhormat dan dihargai di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sebagai konsekuensi untuk memperjuangkan dan mempertahankan kehormatan dalam kehidupan bermasyarakat, maka masyarakat Lampung berkewajiban untuk mengendalikan perilaku dan menjaga nama baiknya agar terhindar dari sikap dan perbuatan yang tidak terpuji. (ABDUL SYANI, 2013)

Piil pesenggiri sebagai lambang kehormatan harus dipertahankan dan dijiwai sesuai dengan kebesaran Juluk-adek yang disandang, semangat nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambaiyan .

Secara ringkas unsur-unsur Piil Pesenggiri itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Juluk-Adek

Secara etimologis Juluk-adek (gelar adat) terdiri dari kata juluk dan adek, yang masing-masing mempunyai makna; Juluk adalah nama panggilan keluarga seorang pria/wanita yang diberikan pada waktu mereka masih muda atau remaja yang belum menikah, dan adek bermakna gelar/nama panggilan adat seorang pria/wanita yang sudah menikah melalui prosesi pemberian gelar adat. Akan tetapi panggilan ini berbeda dengan inai dan amai. Inai adalah nama panggilan keluarga untuk seorang perempuan yang sudah menikah, yang diberikan oleh pihak keluarga suami atau laki-laki. Sedangkan amai adalah nama panggilan keluarga untuk seorang laki-laki
yang sudah menikah dari pihak keluarga isteri.

Juluk-adek merupakan hak bagi anggota masyarakat Lampung, oleh karena itu juluk-adek merupakan identitas utama yang melekat pada pribadi yang bersangkutan. Biasanya penobatan juluk-adek ini dilakukan dalam suatu upacara adat sebagai media peresmiannya. Juluk adek ini biasanya mengikuti tatanan yang telah ditetapkan berdasarkan hirarki status pribadi dalam struktur kepemimpinan adat.

Karena juluk-adek melekat pada pribadi, maka seyogyanya anggota masyarakat Lampung harus memelihara nama tersebut dengan sebaik-baiknya dalam wujud prilaku pergaulan kemasyarakatan sehari-hari.

  1. Nemui-Nyimah

Nemui berasal dari kata benda temui yang berarti tamu, kemudian menjadi kata kerja nemui yang berarti mertamu atau mengunjungi/silaturahmi. Nyimah berasal dari kata benda “simah”, kemudian menjadi kata kerja “nyimah” yang berarti suka memberi (pemurah). Sedangkan secara harfiah nemui-nyimah diartikan sebagai sikap santun, pemurah, terbuka tangan, suka memberi dan menerima dalam arti material sesuai dengan kemampuan. Nemui-nyimah merupakan ungkapan asas kekeluargaan untuk menciptakan suatu sikap keakraban dan kerukunan serta silaturahmi. Nemui-nyimah merupakan kewajiban bagi suatu keluarga dari masyarakat Lampung umumnya untuk tetap menjaga silaturahmi, dimana ikatan keluarga selalu terpelihara dengan prinsip keterbukaan, kepantasan dan kewajaran.

Pada hakekatnya nemui-nyimah dilandasi rasa keikhlasan dari lubuk hati yang dalam untuk menciptakan kerukunan hidup berkeluarga dan bermasyarakat. Dengan demikian, maka elemen budaya nemui-nyimah tidak dapat diartikan keliru yang mengarah kepada sikap dan perbuatan tercela atau terlarang yang tidak sesuai dengan norma kehidupan sosial yang berlaku.

  1. Nengah-Nyappur

Nengah berasal dari kata benda, kemudian berubah menjadi kata kerja yang berarti berada di tengah. Sedangkan nyappur berasal dari kata benda cappur menjadi kata kerja nyappur yang berarti baur atau berbaur. Secara harfiah dapat diartikan sebagai sikap suka bergaul, suka bersahabat dan toleran antar sesama. Nengah-nyappur menggambarkan bahwa anggota masyarakat Lampung mengutamakan rasa kekeluargaan dan didukung dengan sikap suka bergaul dan bersahabat dengan siapa saja, tidak membedakan suku, agama, tingkatan, asal usul dan golongan. Sikap suka bergaul dan bersahabat menumbuhkan semangat suka bekerjasama dan tenggang rasa (toleransi) yang tinggi antar sesamanya.

Melihat kondisi kehidupan masyarakat Lampung yang pluralistik,  maka dapat dipahami bahwa penduduk daerah ini telah menjalankan prinsip hidup nengah-nyappur secara wajar dan positif.

Nengah-nyappur merupakan pencerminan dari asas musyawarah untuk mufakat. Sebagai modal untuk bermusyawarah tentunya seseorang harus mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas. Dengan demikian berarti masyarakat Lampung pada umumnya dituntut kemampuannya untuk dapat menempatkan diri pada posisi yang wajar, yaitu dalam arti sopan dalam sikap perbuatan dan santun dalam tutur kata.

  1. Sakai-Sambaiyan

Sakai sambaiyan berarti tolong menolong dan gotong royong, artinya memahami
makna kebersamaan atau guyub. Sakai-sambayan pada hakekatnya adalah menun-
jukkan rasa partisipasi serta solidaritas yang tinggi terhadap berbagai kegiatan
pribadi dan sosial kemasyarakatan pada umumnya.

Sebagai masyarakat Lampung akan merasa kurang terpandang bila ia tidak mampu berpartisipasi dalam suatu kegiatan kemasyarakatan. Perilaku ini menggambarkan sikap toleransi kebersamaan, sehingga seseorang akan memberikan apa saja secara suka rela apabila pemberian itu memiliki nilai manfaat bagi orang atau anggota masyarakat lain yang membutuhkan.

Selanjutnya Titei Gemattei, yang terdiri dari dua suku kata titei dan gemattei. Titeiberasal dari kata titi yang berarti jalan, dan gemantie berarti lazim atau kebiasaan leluhur yang dianggap baik. Wujud titei gemanttei secara konkrit berupa norma yang sering disebut kebiasaan masyarakat adat. Kebiasaan masyarakat adat ini tidak tertulis, yang terbentuk atas dasar kesepakatan masyarakat adat melalui suatu musyawarah (rapat perwatin Adat/Keterem).

Titei gemattei tersebut berisi keharusan, kebolehan dan larangan (cepalo) untuk berbuat dalam penerapan semua elemen Piil Pesenggiri. Memperhatikan proses normatif hubungan sosial titei gemattei ini, maka dalam aktualisasi penerapannya senantiasa amat lentur dan fleksibel mengikuti tuntutan perubahan (selalu terjadi penyesuaian). Contoh; pada masa lalu setiap penyimbang suku di Anek, Kampung, Tiyuh atau Pekon harus mempunyai tempat mandi khusus di sungai (disebut kuwaiyan, pakkalan), tetapi sekarang sesuai dengan perkembangan zaman diganti dengan kamar mandi.

Titei gemattie juga mempunyai pengertian sopan santun untuk kebaikkan yang diutamakan berdasarkan kelaziman dan kebiasaan. Kelaziman dan kebiasaan yang berdasarkan kebaikkan ini pada hakekatnya menggambarkan bahwa masyarakat Lampung mempunyai tatanan kehidupan sosial yang teratur. Sikap membina kebiasaan yang berdasarkan kebaikkan merupakan modal dasar pembangunan dan pemahaman terhadap budaya malu baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat.

Dalam membina kehidupan dan penghidupan yang wajar diperlukan rambu-rambu normatif sebagai pedoman untuk berperilaku. Rambu-rambu dan pedoman itu berwujud ketentuan-ketentuan, yang berisikan larangan (cepalo) dan keharusan (adat) untuk diamalkan oleh setiap anggota masyarakat pendukungnya. Sudah menjadi kenyataan bahwa pedoman hidup tersebut merupakan sarana untuk pembentukkan sikap dan prilaku UNTUK MEMBANGUN KARAKTER baik dalam keluarga, dalam tiyuh, marga, masyarakat luas dan bagian dari BANGSA.

Status sosial seorang anggota masyarakat dapat dikenali antara lain dari juluk adeknya yang mencerminkan strata kepunyimbangan. Di samping itu dapat juga ketahui dari garis lurus status kepenyimbangannya, yaitu penyimbang buwai/marga, tiyuh/anek atau penyimbang suku. Setiap orang memliki tanggung jawab sesuai tingkat kepunyimbangannya

 

Piil Pasenggiri dan semangat Kemuarian

Agar tidak salah dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan negara dalam bidang politik, sosial-ekonomi dan agama yang berhubungan dengan komunitas-komunitas etnik yang heterogen, maka perlu membangun semangat berbangsa yang menguatkan nilai nilai kearifan Lokal.

Masalah  pluralitas etnis, seperti perbedaan adat¬ budaya, tata-pikir, orientasi penghargaan diri sendiri (self esteem) dan kepada orang lain (respect for others), agama dan perasaan subjektif lainnya. Semua ini merupakan unsur-unsur ethnografis yang sangat penting dipahami, diayomi dan diakomodasi melalui proses-¬proses ethno-metodologis dalam membangun kesadaran berbangsa. (Abdulsyani, 2013)

Nilai nilai kearifan lokal masih relevan untuk dipertahankan sebagai semangat kebangsaan. Pancasila juga mesti dipertahankan sebagai sebuah ideologi yang mendasari persatuan antar berbagai perbedaan yang ada di Indonesia. Khususnya dalam rangka pemantapan penghayatan nilai-nilai sejarah kebangsaan dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dirasakan penting untuk menggali, memahami, mengadopsi, menerapkan secara membumi nilai-nilai budaya daerah. Sebagaimana diketahui bahwa nilai-nilai budaya masyarakat Lampung mengakar dalam Falsafah Hidup Piil Pesenggiri- dan Semangat Kemuarian.

Ikatan masyarakat yang luas dibangun dengan semangat Kemuarian, persaudaraan, kebersamaan, saling menghargai,   semangat yang dibangun dengan nilai-nilai Piil Pasenggiri. Apabila seseorang yang memiliki Piil Pesenggiri dan Kemuarian yang kuat, penuh tanggungjawab, mampu dan sanggup mengatasi masalah-masalah kehidupan, mampu bermasyarakat dengan baik, bekerjasama dan saling menghargai.

Unsur-unsur piil pesenggiri (prinsip kehormatan) selalu berpasangan, juluk berpasangan dengan adek, nemui dengan nyimah, nengah dengan nyappur, sakai dengan sambai. Penggabungan itu bukan tanpa sebab dan makna. Juluk adek , nemui nyimah (prinsip ramah, terbuka dan saling menghargai), nengah nyappur (prinsip suka bergaul, terjun dalam masyarakat, kebersamaan, kesetaraan), dan sakai sambaian (prinsip kerjasama, kebersamaan). Sedangkan orang Lampung Saibatin menempatkan Piil Pesenggiri dalam beberapa unsur, yaitu: ghepot delom mufakat (prinsip persatuan); tetengah tetanggah (prinsip persamaan); bupudak waya (prinsip penghormatan); ghopghama delom beguai (prinsip kerja keras); bupiil bupesenggiri (prinsip bercita-cita dan keberhasilan). (ABDULSYANI, 2013)

 

SEKELIK EKAM MENJADI SEKELIK GHAM:

Sekelik ekam, sekelik gham, puwari .

Dengan semangat Kemuarian, sekelik-kemuarian yang dapat dibangun dalam masyarakat Lampung yang Plural saat ini sebuah harmoni dengan karakter yang terbuka, saling menghargai, kesetaraan , kebersamaan dengan jaring kemuarian yang luas..

Kemuarian yang semula hanya terbatas dalam kekerabatan yang terbatas dalam satu tiyuh, pekon, marga dapat berkembang dalam hubungan yang lebih luas antar kelompok kelompok masyarakat.

Dengan menjaga kelestarian sistem adat istiadat dari kearifan lokal masyarakat Lampung, selain untuk merawat nilai-nilai adat istiadat dan kearifan lokan itu sendiri, sekaligus membangun masyarakat Lampung yang berkarakter.

Kemuarian atau sekelik dalam masyarakat Lampung telah menunjukkan perannya dalam membangun nilai kerukunan dalam masyarakat Lampung yang telah beragam saat ini.

Hubungan antar suku, konflik antar kelompok, hubungan dengan pemerintah dapat diselesaikan melalui titei gemattei dalam adat yang telah menjadi acuan bersama untuk keselarasan dan pemecahan masalah sosial kemasyarakatan.

Piil Pasenggiri dengan empat pilarnya telah banyak dibahas dan telah menjadi acuan dalam memahami aspek budaya dalam masyarakat Lampung. Selanjutnya harus menjadi dasar utama dalam membangun karakter budaya dalam masyarakat.

Sekelik kemuarian tidak lagi hanya sebatas sekelik eKam, saudara saya, tetapi menjadi saudara kita.

Saudara se tanah air, saudara se bangsa,

Semangat Kemuarian..

Sekelik gham,Puwari..!!

 

Lampiran:

Hukum Adat Cepalo semula disebut Cepalo Dua Belas. Hukum Adat Cepalo ini berisi larangan-larangan dengan sangsi-sangsi bagi setiap pelanggaran, serta hukuman mati.

Cepalo Dua Belas ini diwujudkan dalam bentuk Kain Tabir (Lassai) sapu tangan dan taplak dengan cara menyambungkan satu dengan lain, terdiri bermacam-macam warna :

Isi Cepalo Dua Belas sebagai berikut :

  1. Dilarang melihat isteri dan anak gadis orang lain dengan pandangan mencurigakan.
  2. Dilarang berbicara yang kotor, menghasut, memfitnah orang lain.
  3. Dilarang duduk lebih tinggi tempatnya dari pada orang yang lebih tua
  4. Dilarang terbuka kemaluannya ditempat orang ramai.
  5. Dilarang tidur tengkurap di gardu kampung pada waktu siang hari, sedangkan para ibu dan gadis lewat di situ.
  6. Dilarang memulkul perut sendiri di dekat wanita yang sedang hamil.
  7. Dilarang naik ruma orang lain dari pintu belakang.
  8. Dilarang seorang tamu masuk ruang tanmu atau tengah rumah tanpa izin tuan rumah.
  9. Dilarang orang laki-laki ditepian kakus tempat wanita atu sebaliknya.
  10. Dilarang mengambil buah-buahan milik orang lain tanpa meminta lebih dahulu.
  11. Dilarang melarikan isteri orang lain.
  12. Dilarang berbuat mesum.

Nomor 1-10 mendapat hukuman denda,
Nomor 11 mendapat pengucilan dari adat dan keluarga
Nomor 12 hukuman dibunuh mati.

Adat Cepalo Dua Belas ini kemudian dikembangkan jumlahnya menjadi dua puluh empat, empat puluh dan terakhir delapan puluh.

 

 

Kitab hukum adat lampuung

Kitab “Kuntara Raja Niti”nadalah kitab hukum adat orang lampung yang telah ada sejak zaman kerajaan sekala berak. Selain Kuntara Raja Niti juga dikenal Cepalo Ghuwabelas dan Ketaro Adat Lampung.

  1. Kuntara Raja Niti

Isi Kuntara Raja Niti diantaranya : Aturan Negeri.

  • Bab I Pasal I “Tercelanya Negeri”

Ayat 1. Kutogh di muka di bulakang, artinya didalam suatu negeri akan tercela apabila penduduknya tidak bisa menjaga kebersihan lingkungan serta halaman rumahnya masing-masing.

Ayat 2. Mak bupakkalan ghagah, artinya didalam negeri akan tercela apabila tidak ada tempat pemandian khusus baik khusus pria maupun wanita, bila mandi bercampur baur disatu tempat.

Ayat 3. Mak busesat, artinya didalam negeri akan tercela apabila tidak memiiki balai adat tempat bermusyawarah sehingga permasalahan tidak pernah dimusyawarahkan bersama.

Ayat 4. Mak bulanggah mak bumusigit, artinya didalam negeri akan tercela apabila tidak memiliki masjid atau langgar tempat beribadah, menunjukan masyarakat tidak pernah sholat berjamaah sebagai kerukunan beragama dalam beribadah.

Ayat 5. Mak ngagantung kalekep, artinya didalam suatu negeri akan tercela apabila tidak menggantungkan kentongan sebagai pertanda keamanan lingkungan tidak diperdulikan dengan tidak adanya ronda malam.

Ayat 6. Mak bugeduk, artinya didalam negeri akan tercela apabila tidak mempunyai beduk, maksudnya suatu negeri tidak ada alat untuk mengingatkan waktu untuk beribadah sebagai hamba Allah swt.

Ayat 7. Hun kughuk tiyuh mak ngenah dandan batin, artinya didalam negeri akan tercela apabila orang lain yang masuk kewilayah itu tidak melihat tanda atau perbedaan rumah seorang pemimpin dengan masyarakat biasa, jadi menunjukan bahwa masyarakat tidak patuh dan menghormati pemimpin.

Ayat 8. Mak bukahandak, artinya didalam negeri akan tercela apabila masyarakatnya tidak berkemauan atau tidak memiliki prakarsa, sehingga dari waktu ke waktu daerah itu tidak ada perubahan situasi.

Ayat 9. Kughang kanan, artinya didalam negeri akan tercela apabila terjadi kekurangan persediaan makanan, sehingga terjadi kelaparan.

Ayat 10.Punyimbang lom tiyuh mak sai tungkul, artinya didalam negeri akan tercela apabila para pemimpin dalam wilayah negeri itu sudah tidak seiya sekata, maksudnya hanya salung menonjolkan diri sendiri tidak perlu dengan pemimpin lainya bahkan saling bermusuhan.

  • Bab I pasal 2 “Senangni Negeri”

Ayat 1. Cawa sai sepuluh  sudi cukup, artinya satu kata sudah cukup dari pada sepuluh tapi bertele-tele, maksudnya suatu negeri akan berbahagia jika pendududknya dlam menyelesaikan suatu masalh tidak bertele-tele atau terlalu banyak kiasan, tidak terlalu banyak pembicaraan yang tidak bermanfaat.

Ayat 2. Muli meghanai lamen ghanta sapuk, artinya bujang gadis yang rajin bekerja, maksudnya suatu negeri akan berbahagia jika bujang gadisnya sebagai generasi penerus kader yang kreatif, tidak malas, maka masa depan bangsa akan cerah.

Ayat 3. Ghajani sabar, artinya rajanya sabar. Maksudnya seorang pemimpin haruslah yang arif dan bijaksana dalam menghadapi masyarakat yang beraneka ragam sifat dan harus selalu sabar dalam memimpin.

Ayat 4. Anak buah makai kakigha,  artinya masyarakat sebagai warga akan selalu tertanam rasa berperasaan serta tenggang raa terhaap sesama, serta tahu diri.

Ayat 5. Tanom tumbuh silamat, artinya tanaman tumbuh subur. Maksudnya negeri akan berbahagia jika masyarakatnya selalu berusaha bertani, berupaya dalam segala hal agar tanaman menghasilkan hasil yang melimpah sesuai dengan kesuburan daerahnya.

Ayat 6. Penguluni ghajin bulanggagh, artinya pemimpin rajin kemasjid atau langgar. Memberikan contoh kepada masyarakat sebagai umat muslim yang selalu berserah diri denga cara menunaikan rukun islam secara bersama-sama dimasjid.

  • Bab I Pasal 3 “Sejahteghani negeri”

Ayat 1. Nemuiko hun tandang tawa himpun manuk uttawa himpun tahlui, artinya suatu negeri akan bangga bila didatangi orang bertandang kenegeri itu untuk mencari kebutuhan yang banyak berupa hasil bumi, ayam, telur, dsb. Itu menunjukkan negeri itu makmur dalam berbagai segi.

Ayat 2. Kalalan cunham di iwa wai, iwa daghak, artinya pengairan yang mengalir mengandung banyak ikan maksudnya pelestarian sungai akan menghasilkan ikan yang banyak menambah kemakmuran negeri.

Ayat 3. Inggoman dukhagh beghsih di bah di lambung pukalan deghus, artinya ternak yang banyak hasil gembala yang melimpah ruah, suasana bersih pemandian mengalir deras. Maksudnya negeri itu sangat berbahagia jika ternak melimpah, kebersihan terjaga, air yang cukup, dan pemandian yang teratur.

Ayat 4. Ghanglaya gawang, artinya jalan raya selalu bersih, terhindar dari rumput dan kotoran, ternak yang berkeliaran, dan anak-anak tidak mengganggu lalu lintas suasana umum.

Ayat 5. Juwal bughugan sai ghanta kejung jama punyimbangni ngedok hajat mak ngunut kekughanganni di humbul baghih, artinya bakat trampil dan kreatif masyarakat suatu daerah atau negeri dalam hasil karyanya merupakan tambahan dalam mencukupi kebutuhan hajat sendiri ataupun hajat pemimpinnya, tanpa mencari kedaerah lain.

 

 

Cepalo ghuwa belas

Berisikan 12 larangan dalam rangka menjaga kesopanan dan kerukunan.

1)      Dilarang mandang majeu ulun maupun anak mulei ulun jamo pandangan jamo birahi. Hukumano dendo. Artinya dilarang memandang istri orang maupun anak gadis orang dengan pandangan yang mengandung birahi, hukumannya denda.

2)     Dilarang balahkamah atau cabul, ngehasut, mitnah, kabagh buhung. Hukumano dendo. Artinya dilarang berbicara kotor/cabul, menghaut, memfitnah, kabar bohong, hukumannya denda.

3)     Dilarang mejeng dipok sai lebih gecak anjak pok mejeng ulun tuho, atau ulun sai gham hormati. Hukumano dendo. Artinya dilarang duduk ditempat yang lebih tinggi dari tempat duduk orang tua atau orang yang kita hormati. Hukumannya denda.

4)     Dilarang nampaken aurat didepan ulun ghamik. Hukumano dendo. Artinya dilarang menampakkan aurat didepan khalayak ramai, hukumannya denda.

5)     Dilarang nepuk beteng didepan ulun sai lagei meteng.hukumano dendo. Artinya dilarang menepuk perut didepan orang yang sedang hamil, hukumannya denda.

6)     Dilarang pedem tengkurep didawah haghei, ditengah keppung/tiyuh/ghadeu. Artinya dilarang tidur tertelungkup disiang hari, ditengah kampung atau digardu. Hukumannya denda.

7)     Dilarang kughuk nuwo ulun baghih liwat belangan. Artinya dilarang memasuki orang lain tanpa izin melalui pintu belakang, hukumannya denda.

8)     Dilarang liwat ruangan lun tanpa izin. Artinya dilarang melewati ruangan orang lain tanpa izin, hukumannya denda.

9)     Dilarang mandie dipok pemandian sebai/sebalikno. Artinya dilarang mandi ditempat pemandian perempuan atau sebaliknya. Hukumannya denda.

10)  Dilarang ngukuk ulun baghik tanpomizin pemilikno. Artinya dilarang mengambil hak orang lain tanpa izin pemiliknya, hukumannya denda.

11)   Dilarang ngebok/ngelarieken mejo ulun, hukumano dikucilken/diusir. Artinya dilarang membawa/melarikan istri orang, hukumannya dikucilkan/diusir.

12)  Dilarang berbuat mesum/zina, hukumano dipatieken. Artinya dilarang berbuat mesum/zina, hukumannya dibunuh.

 

 

 

Admin MBI
Admin MBI
Forum pertemuan gagasan terbuka bagi para pemikir terkemuka Indonesia. Email: [email protected]