Diskusi Publik Apa dan Siapa Bangsa Indonesia ini, Pra MBI III di UI Depok

Aula Terapung, Perpustakaan UI, Jumat 2 Nov 2018, Pukul 15.00-18.00 WIB

 

Apa yang dapat dibayangkan oleh generasi milenial tentang sebuah bangsa dengan kedaulatan teritorial, di saat mereka telah mendeklarasikan diri sebagai warga global? Inilah pertanyaan yang menggelisahkan banyak pihak di abad digital, ketika generasi baru tidak lagi merasa berada dalam lingkup sebuah bangsa, lantaran dalam pergaulan mereka, tak ada lagi batas spasial dan teritorial yang tak dapat diterabas. Ruang yang mereka huni adalah ruang tanpa batas, termasuk batas-batas teritorial dalam lingkup sebuah negara. Mereka telah melampaui definisi citizen, menuju interaksi alam bebas dengan status netizen.

Lalu, bagaimana dengan civic culture atau budaya kewargaan dalam sebuah bangsa 
yang berdaulat mesti ditegakkan? Apakah mereka masih dapat mengenali dirinya sebagai warga dari sebuah bangsa bernama Indonesia? Atau jangan-jangan identitas kebangsaan yang
bersidik-jari Indonesia itu telah lebur ke dalam riuh perbincangan di jagad maya, yang dihuni oleh orang-orang asing, yang juga tidak punya identitas kebangsaan?

Di titik inilah pentingnya merefleksikan kembali makna dari status kewargaan. Apa dan Siapakah Bangsa Indonesia itu hari ini? Mufakat Budaya Indonesia (MBI) hendak mendalami persoalan ini dalam sebuah Diskusi Publik bersama Radhar Panca Dahana, Haidar Bagir, Bambang Wibawarta, dan Bambang Soesatyo, yang akan digelar di Aula Terapung, Perpustakaan Universitas Indonesia (Depok), pada Jumat, 2 November 2018, pukul 15.00-18.00 WIB.

Refleksi tentang makna kebangsaan dan arti dari Bangsa Indonesia itu sengaja dielaborasi guna menghimpun pokok-pokok pikiran menyangkut konsep dan basis pemahaman mendasar tentang kebangsaan, yang akan menjadi salah satu tajuk permufakatan dalam Temu Akbar Mufakat Budaya Indonesia III pada 22-25 November 2018 mendatang. Diskusi publik yang terselenggara atas kerjasama MBI dengan Perpustakaan Universitas Indonesia ini
merupakan diskusi publik yang ketiga dari rangkaian pra-event Temu Akbar Mufakat Budaya Indonesia 2018. Sebelumnya telah digelar diskusi bertajuk Kebudayaan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dan diskusi bertajuk Ideologi di Universitas Islam Jakarta.

Mufakat Budaya Indonesia adalah sebuah forum yang digagas oleh Budayawan Radhar Panca Dahana, guna mencari komprehensi pemahaman tentang Kebudayaan Indonesia, yang sejak tujuh dekade lalu hingga kini, belum juga tuntas dirumuskan. Sementara dari kebudayaan itulah, kita dapat menggengam identitas kebangsaan. Dari sumbu kebudayaan pula kita bisa punya ideologi, negara, dan tentu saja konstitusi. Diskusi ini akan dihadiri oleh para peminat kajian kebangsaan, tokoh-tokoh seni-budaya, hingga mahasiswa yang memiliki perhatian pada isu-isu kebangsaan.

Diskusi publik dalam rangkaian Temu Akbar Menuju Mufakat Budaya 3 ini telah sampai pada kali ketiga. Dengan tema Kebangsaan, diskusi bertajuk Apa dan Siapa Bangsa Indonesia Ini? telah dilakukan dengan baik. Dihadiri oleh sekitar 100 hadirin, acara ini menghadirkan empat narasumber yaitu Bambang Wibawarta, Haidar Bagir, Suhadi Sendjaja dan Olivia Zalianty –mewakili generasi milenial. Diskusi dipandu oleh Bara Pattiradja.

Diskusi berfokus pada bagaimana generasi milenial sebuah bangsa terkait kedaulatan teritorial, di saat mereka mendeklarasikan diri sebagai warga global? Pada abad digital, generasi baru tidak lagi merasa berada dalam lingkup sebuah bangsa, lantaran pergaulan mereka tak ada lagi berbatas spasial dan teritorial. Ruang yang mereka huni adalah tanpa batas. Mereka telah melampaui definisi citizen, menuju interaksi alam bebas dengan status netizen.

Lalu, bagaimana dengan civic culture atau budaya kewargaan dalam sebuah bangsa yang berdaulat mesti ditegakkan? Apakah mereka masih dapat mengenali dirinya sebagai warga dari sebuah bangsa bernama Indonesia? Atau jangan-jangan identitas kebangsaan yang bersidik-jari Indonesia itu telah lebur ke dalam riuh perbincangan di jagad maya, yang dihuni oleh orang-orang asing, yang juga tidak punya identitas kebangsaan?

Prof Dr Bambang Wibawarta, M.A,Pembantu Rektor I Universitas Indonesia ini mengawali dengan mengatakan bahwa empat pilar bangsa -Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD ’45 dan NKRI –  masih retorika dan seremonial, belum menjadi budaya dan perilaku. Sementara teknologi yang bergerak pesat dan dinamis akan berdampak pada perilaku manusia secara sepihak. Dalam dunia globalisasi pertukaran pandangan dan pikiran antarindividu terjadi secara cepat. Dalam hal ini anak mudalah yang paling terpapar.

Kebangsaan adalah rasa dan kesadaran diri yang tertanam dari diri seseorang. Kira-kira 12 tahun lalu dia diundang ke Jepang dan sudah bicara bahwa teknologi Jepang akan tertinggal dari Korea. Belakangan produk-produk selular Jepang tersingkir digantikan Samsung dan Xiaomi dari Cina. Hal itu disebabkan budaya sungkan masyarakat Jepang. Dalam memutuskan mereka lambat. Sedangkan Korea sudah memproduksi. Cina lebih cepat, istilahnya, sebelum dipikir mereka sudah memproduksi.

Karakter bangsa akan dipengaruhi oleh karakter manusianya. Dalam menghasilkan suatu produk suatu bangsa akan mengandalkan masyarakat terdidik sebanyak 90% dan 10% dari sumber daya alam. Dan bangsa Indonesia masih memiliki permasalahan besar dalam hal sumber daya manusia. Bagaimana berpikir lengkap, menumbuhkan masyarakat berilmu dengan dasar pengetahuan (knowledge-based), yang seharusnya sudah terjadi pada tingkat PAUD, SD, dan seterusnya.

Bangsa Indonesia masih bangga sebagai melting pot. Bahwa banyak budaya ada di sini tercampur-baur. Seperti pecel yang tidak lagi dapat terlihat masing-masing komponen karena sudah disatukan. Strategi kebudayaan yang komprehensif sebenarnya akan terkait dengan mindset, lalu bidang kesehatan, ekonomi, dan bidang-bidang lain, seluruhnya. Bukan hanya material culture.

Pemerintah seyogyanya dapat mengelola kebudayaan dan keragaman yang kita miliki itu sebagai kekuatan. Memang sudah ada UU pemajuan kebudayaan tetapi masih belum tahu apa dan bagaimana maksudnya. Apa yang dimaksud dengan memajukan kebudayaan? Artinya kita belum ada strategi yang komprehensif dalam hal kebudayaan. Diperlukan kesepakatan dalam tingkat Negara untuk menghasilkan konstruksi yang terbuka. Selama ini penyelesaian permasalahan belum sampai ke akar. Baru tingkat solusi berupa perampingan dan efisiensi negara. Perubahan yang ada pun hanya bersifat mengganti dan mengubah UU, belum menyentuh yang mendasar.

Bangsa bukanlah suatu ras atau orang yang punya kepentingan sama, dibatasi geografis saja melainkan jiwa dan asas solidaritas pengorbanan masa lampau dan sekarang, berlanjut ke masa depan, melalui kesepakatan untuk hidup bersama. Kaum milenial bukan yang terlepas dari kebangsaan tetapi selalu ada benang merah yang kita harus rajut bersama. Bangsa dibangun atas kepentingan bersama. Kita harus mempunyai perekat yang mengikat keindonesiaan kita. Dari sekian ratus bahasa bisa memilih dan memilah mana yang dapat menjadi dijadikan perekat lokal agar menjadi nasional.

Keragaman seharusnya kekuatan yang mengikat. Laut bukan pemisah pulau tetapi perekat keindonesiaan, begitu pula budaya dan masalah pendidikan ekonomi. Ini yang harus diinternalisasi dalam pendidikan formal. Ujung tombaknya pendidikan termasuk pendidikan budaya dan nilai-nilai yang kita sepakati bersama.

Kita seharusnya tidak khawatir dengan budaya yang masuk dari luar. Sebaliknya kita harus menjaga titik singgung agar berdampingan dengan baik. Sistem pendidikan harus dapat diinternalisasi sehingga menjadi perilaku sehari-hari, dengan begitu kita dapat menangkal  korupsi, intoleransi, radikalisasi, dan yang lain.

Sementara Suhadi Sendjaja, Maha Pandita Utama Buddha Dharma Niciren Syosyu (NSI)  memaparkan paham kebangsaan dari perspektif Buddha. Bahwa secara umum bangsa bukan saja sekumpulan manusia yang senasib, dalam batas geografi yang sama, yang berada dalam tiga masa -lampau, sekarang, dan masa depan. Menurut Budha, eksistensi manusia betul-betul sepenuh kehadiran. Kehadiran saya sangat khas. Keadaan setiap orang di sini sangat khas. Bahkan manusia yang lahir kembar pun tidak ada yang persis sama

Ada tiga perbedaan manusia. Manusia karena dasar hati beda cara menerima dan cara menyerap bereaksi membentuk karma dalam dirinya berbeda satu dengan yang lain. Manusia mempunyai eksistensi yang disebut perbedaan, tempat kedudukannya. Dalam eksistensi sepenuhnya.

Manusia mempunyai hubungan saling mempengaruhi lingkungan. Manusia dan alam bukan dua, bukan juga two in one, tetapi satu. Karena itu apa yang ada di lingkungan merupakan sepenuhnya refleksi dari subyek ini. Bila lingkungan harus diperbaiki maka yang diperbaiki adalah tubuhnya. Bayangan kita bila menghadap sinar matahari tidak dapat diluruskan bila badannya sendiri bengkok. Itu prinsip dasarnya.

Manusia sebagai sebuah komunitas dan perkembangan lain adalah teknologi. Dalam kaitan dengan ini agama Buddha melihatnya sebagai temuan-temuan. Misalnya, dalam cerita komik Kho Ping Ho, diceritakan tentang cermin lopian yang dapat mendengar dari jarak jauh. Sekarang itu bukan hal aneh lagi. Newton pun tidak menciptakan hukum daya tarik bumi tetapi dia menemukan itu. Temuan-temuan oleh manusia adalah alat bantu untuk meningkatkan kemudahan bagi kemudahan dalam hidup. Ujungnya adalah untuk kebaikan dan kemanusiaan. Untuk membahagiaan umat manusia. Kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kemajuan spiritual. Untuk kebahagiaan manusia.

Bahwa semua manusia itu bersaudara. Laut bukan pemisah daratan tetapi untuk menyatukan. Indonesia menjadi satu bangsa yang dilandasi oleh kebudayaan dari 17 ribu pulau. Di laut kehidupan jutaan, ikan kecil menjadi makanan ikan besar, plankton ada rumput laut, dan biota lain. Semua bersimbiose mutualisme. Begitu juga bangsa indonesia dengan ribuan suku bangsa dan ratusan bahasa. Masing-masing menjadi landasan komunitas dan perbedaan menjadi kekuatan untuk membentuk sebuah kebangsaan yang unggul. Ada pemikiran kita makhluk sosial, bahwa dalam diriku ada dirimu, dalam dirimu ada diriku. Bersimbiose yang mutualisme di alam semesta sehingga kepentingan menurut agama, dan yang lain, menjadi suatu ciri khas karena perbedaan manusia, tempat kedudukan, pribadi-pribadi menjadi kekuatan bersama ketika kita sepakat untuk sebuah tingkatan kesejahteraan bagi seluruhnya.

Diperlukan sebuah upaya moderasi agar mengembalikan pada mental sesungguhnya.

Pembicara ketiga, Dr Haidar Bagir, Doktor lulusan Universitas Harvard USA dan CEO Mizan  merasa topik yang dibicarakan dalam dikusi ini   terlalu besar. Pertanyaan “Apa dan siapa bangsa Indonesia ini” seperti sejarah tentang segala sesuatu. Ia pernah menulis tentang strategi kebudayaan namun mungkin bagi orang lain itu tidak pantas, bahkan pertanyaan kenapa kebudayaan ada strategi.

Manusia adalah persoalan keunikan. Manusia punya kedudukan yang berbeda-beda, sebagai individu dan masyarakat. Budaya yang berbeda itu alami dan disyukuri. Pluralisme budaya tidak bisa dihindari namun harus disyukuri dan dipertahankan agar kehidupan menjadi lengkap.

Dalam satu forum, dalam tema, Adakah Islam Indonesia, dia mengatakan Islam indonesia itu panteisme. Ia ingat Sutan Takdir Alisyahbana, setelah polemik kebudayaan, sangat khawatir kalau-kalau Indonesia menjadi bagian dari budaya timur. Karena baginya, budaya timur adalah budaya yang ketinggalan dan itu akan membuat bangsa Indonesia akan tertinggal dari budaya barat yang kompetitif dan mudah menerima. Padahal kebudayaan yang matang itu yang seimbang, yang tidak tertarik pada satu ekstrem tertentu.

STA (Sutan Takdir Alisyahbana) menulis tiga lapis budaya Indonesia:

  1. Yang terpengaruh Agama-agama asli yang membentuk budaya, primitif dan animistik
  2. Yang dibentuk oleh Agama asal India, h=Hinduisme yang kenal kesusasteraan yang tinggi, unsur rasional, agama yang bersifat mistikal sehingga melahirkan literasi yang tinggi.
  3. Budaya Islam modern, yang membawa Pada rasionalisme.

Sementara menurut Bagir, sebagai pernah belajar filfasat dan mistisisme, agama tak lepas dari rekaan manusia, bahkan Tuhan. Rekaan di dalam diri manusia yang adalah teofanik, memanifestasikan ketuhanan. Namun tidak berarti agama dan Tuhan itu direka oleh manusia, namun Tuhan kehilangan obyektivitasnya karena manusia adalah teofani tuhan. Itulah keunikan dan kedudukan manusia.

Setiap manusia adalah wadah dari satu pancaran. Dalam mistisisme Islam ada yang disebut matham atau wadah. Karena manusia unik, sinar matahari yang memancar akan berbeda, karena menyangkut manusia dan juga masyarakat.

Bagaimana homo sapien yang tak punya peran apa-apa, perannya terlalu kecil sampai kemudiam punya kemampuan kognitif. Manusia dari satu nenek moyang menjadi banyak, terjadi migrasi, interbreeding, sampai ada mutasi jenis manusia-manusia. Di pantai akan terbentuk budaya berbeda, di tanah gersang akan menjadi nomad, ke tempat subur budaya akan terbentuk oleh pertanian.

Budaya seperti ini harus disyukuri karena budaya sebagai wadah unik dari pancaran ketuhanan itu. Itu seperti puzzle dengan banyak potongan.

Manusia diciptakan dalam suku dan bangsa untuk saling belajar kearifan lokal dan kultural. Panteistik animisme dan mistik dalam konotasi positif. Islam pada batas tertentu itu animistic dan mistik. Panteistik dan mistikal adalah animisme yang positif. Orang yang memaknai itu sebagai hukum alam, Tuhan sudah menetapkan hukum alam, ketika kamu menyembah batu, pohon, laut, gunung, sebenarnya mereka sedang menyembah Tuhan karena semua mahluk adalah teofanik. Kita seharusnya tidak mempermasalahkan sedekah laut, sesajen, namun dipahami sebagai simbol rasa syukur kepada alam.

Budaya agama seharusnya tidak anti-teknologi. Inilah agama yang menarik bagi generasi milenial. Mereka generasi yang berbeda dengan sebelumnya. Mereka peduli makanan organik, mementingkan solidaritas. Dia punya banyak pengalaman membuktikan berkali-kali anak muda Muslim meninggalkan agama karena agama yang mereka lihat tidak menarik buat mereka. Agama yang tidak menekankan kebaikan, tetapi yang mengedepankan kemenangan. Di sebuah festival sastra dia didatangi seorang anak muda yang lancar berbahasa Inggris, hampir tidak bisa bahasa indonesia, dan mengaku sudah agnostik lama. Tetapi setelah mendengar Islam yang otentik, ia mau belajar agama lagi.

Olivia Zalianty, Artis muda Indonesia sebagai pembicara terakhir, berpendapat bahwa generasi milenial adalah generasi yang kebingungan. Berbicara soal pembangunan, masa depan, ledakan penduduk, akan terjadi bom waktu pada 2045, yang menjanjikan, bahkan menjadi beban dan sumber chaos.

Generasi 1980-an, ada citizen, sekarang warga netizen. Citizen dipengaruhi netizen. Ada sekitar 150 juta pengguna facebook, dan 95 juta instagram. Teknologi itu bagus dan anak muda harus mengikuti teknologi. Namum ada banyak kemajuan teknologi yang menggerus adab-adab kebudayaan kita. Seperti misalnya sekarang serba cepat dan kita tidak lagi memiliki kedalaman romantisme seperti dulu, misalnya menunggu surat, dll.

Pemerintah pada umumnya ingin membantu masyarakat namun sering masyarakat tidak mengerti bantuannya. Seperti contoh kasus tradisi tahunan penangkapan ikan paus di Adonara, NTT, adalah peristiwa budaya, namun kemudian pemerintah bikin peraturan tidak boleh ditangkap karena spesies Ikan Paus akan habis. Juga, misalnya sagu di Ambon, tetapi pemerintah memberi beras karena tidak tahu budaya yang ada di sana, dll.

Pada saat Sesi tanya-jawab:

1.Wibowo, dari Aliansi Kebangsaan:

Siapa Indonesia itu? Sutomo pada 1908 mungkin tidak tahu jawaban karena hanya tahu tantangan.  Sukarno, Kartini juga, mereka punya inisiatif karena ada tantangan. Bangsa Indonesia punya sumber manusia yang luar biasa kita tinggal mengumpulkan saja. Kuncinya adalah manusia.

Jawaban Haidar

Berbicara apa dan siapa adalah sebuah pilihan bukan suatu keniscayaan, bukan merasa lebih unggul dari orang lain. Kita merawat pluralisme karena ada persamaan dan perbedaan. Jangan diseragamkan.

Jawaban Bambang

Tidak ada kekhawatiran soal generasi milineal, karena nanti akan ada jawabnya sendiri. Budaya itu berubah dan dinamis, semua itu ada naik-turunnya, tidak ada puncak kehidupan. Akan menemukan puncak-puncaknya sendiri.

Bahwa tidak semua budaya harus dilestarikan tetapi harus disesuaikan dengan zaman. Kalau ada budaya harus menyembelih seribu kerbau, sekarang tidak cocok dilaksanakan. Nilai pahlawan berubah, yang berguna bagi kemanusiaan dan peradaban. Nilai gotong-royong sekarang bukan sekadar membersihkan got bersama tetapi memanfaatkan semua kemampuan untuk kepentingan bersama.

 

2.Indira, Putri Kebudayaan

Bagaimana mengubah komunikasi yang konvensional  sehingga bisa dipahami generasi sekarang?

Jawaban Haidar

Soft komunikasi, pergunakan saja semua medsos. Komunikasi tidak dilakukan secara tatap muka. Komunikasi dilakukan sesuai zaman, kitalah yang harus melestarikan.

 

3.Bapak HS Dillon

Kita bukan melting pot tetapi bhineka secara alami. Panteisme bahwa Tuhan ada di segala tempat. Itu bukan bangsa Cina atau Arab yang membawa tetapi kita telah punya sejak lama. Sudah ada masyarakat, pemerintah, agama.

Intinya kita berikan yang sudah kita kerjakan selama ini. Itulah yang kita berikan. Tentang generasi milenial, manusia sama sejak mulai peradaban, dan masa depan yang lebih kompleks, tidak ada. Yang berubah props, manusia tidak berubah, sama dari dulu sampai sekarang.

Masalah utama, bangsa ini tidak bisa bermartabat, selama pemimpinnya semua mau merusak bangsa ini yang sudah dibentuk 1928.

4.Jonathan

Apa yang dimaksud Gerakan anak muda Islam Cinta yang disebut oleh Pak Haidar?

Jawaban Haidar

Anak-anak muda punya kebutuhan spiritualnya sendiri. Mereka bagian dari budaya itu sendiri. Kaum milenial butuh soal jati diri, identitas. Di Gerakan islam cinta ada ribuan anak muda terlibat karena kebutuhan itu.*** (AYS,IS, DH)

 

 

Admin MBI
Admin MBI
Forum pertemuan gagasan terbuka bagi para pemikir terkemuka Indonesia. Email: [email protected]